AMLAPURA, BALIPOST.com – Sebulan sudah warga mengungsi akibat aktivitas Gunung Agung meningkat ke level awas sejak 22 September. Meski gempa sudah turun dan asap  putih mulai tidak terlihat, namun warga belum berani pulang ke kampung halaman dan tinggal menetap di rumah mereka.

Apalagi hingga Jumat (27/10), warga pengungsi juga belum mendapat perintah kembali ke rumah mereka dari pemerintah. “Kalau pun diminta pulang, dengan kondisi sekarang saya masih berpikir untuk pulang ke rumah. kalaupun diijinkan mungkin saya akan mencari tempat lain untuk mengungsi. Sampai sekarang belum berani kembali ke rumah,” ungkap Wayan Sudira warga asal Besakih Kangin saat ditemui di tempatnya mengungsi di Desa Menanga, Rendang.

Sudira mengatakan karena takut pulang, saat Galungan yang tinggal beberapa hari lagi, segala sarananya akan dibuat di tempat pengungsian. Semua persiapan yang dibutuhkan, baik untuk banten maupun saat penampahan, dikerjakan di tempat pengungsian secara sederhana. “Meski sederhana tapi saya tetap merayakan penampahan dengan membuat lawar. Hanya untuk dagingnya akan dibeli di Pasar Menanga. Kalau situasinya normal, masyarakat biasanya maseke (berkelompok, red) memotong babi. Tetapi sekarang karena mengungsi terpaksa daging dibeli di pasar,” katanya.

Baca juga:  Pengungsi di Posko Kubu Keracunan Usai Santap Sambal Kemiri

Lanjut dikatakannya, meski berada di pengungsian, makna hari raya tidak sampai berkurang. Karena setelah semua sarana dibuat, keesokan harinya barulah pulang untuk melakukan persembahyangan di rumah.

Namun, meski Galungan tinggal lima hari lagi, ibu-ibu di pengungsian belum mulai mengerjakan sarana persembahyangan. “Karena sarana dibuat menggunakan busung, mejejaitan dibuat sehari sebelum Galungan agar  tidak layu sebelum hari H,”  jelas Sudira. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.