Bos
Anak-anak pengungsi (tanpa seragam) mengikuti proses belajar-mengajar di SDN 2 Gelgel sejak awal mulai bersekolah. Guna memperlancar pencairan BOS jelang UAS, mereka akan dibuatkan sekolah khusus. (sos)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Ribuan siswa pengungsi yang mengikuti proses belajar – mengajar dengan berbaur bersama siswa pada sejumlah sekolah di Kabupaten Klungkung akan dibuatkan sekolah khusus. Hal ini untuk mempermudah pencairan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemkab Karangasem. Targetnya, sudah terealisasi sebelum pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS).

Kepala Dinas Pendidikan Klungkung Dewa Gde Darmawan didampingi Sekdisdik I Ketut Sujana menjelaskan berdasarkan data terakhir, siswa pengungsi yang menempuh pendidikan di bumi serombotan mencapai 3.071 orang. Rinciannya, 319 TK, 1661 SD, 599 SMP, 379 SMA dan 113 SMK. Pada Desember mendatang, mereka akan menghadapi UAS.

Dalam pelaksanaannya, memerlukan dana BOS, salah satunya untuk pencetakan soal. Mengingat itu masih dikelola Pemkab Karangasem, maka penyalurannya memerlukan regulasi yang jelas. Seluruh siswa akan dibuatkan sekolah khusus. “Ini untuk mempermudah pencairan bantuan dari Karangsem. Sekolahnya diberi nama sekolah bersaudara. Karena proses belajar- mengajar memanfaatkan sekolah yang sudah ada,” bebernya, Jumat (20/10).

Disampaikan lebih lanjut, sesuai rencana, Pemkab Klungkung akan menyiapkan tiga SMP dan 11 SD. Sebelum sistem ini diterapkan, pihaknya terlebih dahulu mengkomunikasikan dengan keluarga siswa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya keluhan dikemudian hari. “Pemilihan sekolah disesuaikan dengan jumlah siswa. Memang gampang diiakses. Selain itu kondisi bangunan juga jadi pertimbangan,” katanya.

Baca juga:  Ratusan Siswa Pengungsi Gunung Agung Sekolah di Badung

Program tersebut ditargetkan sudah terealisasi sebelum UAS. Tenaga pendidiknya juga langsung didatangkan dari Karangasem. Guna memperjelas teknis pelaksanaannya, dalam waktu dekat pihaknya berencana rapat bersama instansi terkait. “Klungkung tetap menjadi tuan rumah. Untuk seperti apa jadinya, akan kami rapatkan dulu. Mudah-mudahan November sudah bisa berjalan,” kata birokrat asal Mandungan, Kecamatan Klungkung ini.

Selama ini, siswa pengungsi mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah terdekat dengan tempatnya mengungsi. Mereka gabung dengan siswa lain, dengan sistem brother school, dalam artian tidak dikhususkan. “Sampai saat ini, mereka belajar dengan siswa disini. Tidak dipisahkan. Sejauh ini tidak ada kendala. Semua berjalan lancar,” tandasnya. (sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.