Pratisentana Arya Damar Bali menggelar upacara Peneduh Jagat di Pura Watu Klotok, Jumat (20/10). (BP/sos)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Status Gunung Agung, Karangasem yang masih di level awas mengharuskan warga yang bermukim di sekitarnya mengungsi. Kondisi demikian memantik keprihatinan dari Pratisentana Arya Damar Bali.

Guna memohon keselamatan, dilakukan upacara paneduh jagat di Pura Watu Klotok, Desa Tojan, Kecamatan Klungkung, Jumat (20/10). Upacara yang dimulai pukul 10.00 Wita ini di-puput lima sulinggih, yakni Ida Rsi Agung Begawan Dewa Ngurah Pamecutan dari Griya Putra Lanang Pamogan, Legian, Ida Rsi Agung Begawan Dhamar Jaya Pamecutan, Manuaba, dari Griya Agung Surya Bhandana, Kerobokan Kaja, Ida Rsi Agung Begawan Adnyana Telabah Pemecutan dari Griya Agung Telabah Pemecutan, Kerobokan, Ida Rsi Agung Begawan Dawan Pemecutan dari Griya Pasraman Dawan, Jimbaran, dan Ida Rsi Agung Begawan Dharma Putra Adnyana, Pemecutan, dari Griya Agung Lanang Dawan, Padang Sambian.

Ida Rsi Agung Begawan Dharma Putra Adnyana yang juga sekaligus Sekretaris Pratisentana Arya Damar Bali mengungkapkan upacara yang dilaksanakan tak hanya sebatas paneduh jagat. Namun juga Guru Piduka dan pakelem segara. Hal ini sebagai salah satu cara untuk memohon keselamatan kepada kepada tuhan, terlebih adanya peningkatan aktivitas Gunung Agung. “Kami sangat mengharapkan dan berdoa supaya tidak meletus,” ungkapnya.

Baca juga:  Pascagalungan, Ribuan Pengungsi Tercatat Pulang Permanen

Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk masyarakat. Ditegaskan, permohonan keselamatan tak hanya berhenti pada upacara. Namun masyarakat juga perlu mulat sarira dan lebih serius dalam mengamalkan konsep Tri Hita Karana. “Mungkin ini (status Gunung Agung, red) sebuah peringatan. Hubungan kita tidak lagi harmonis,” ujarnya.

Beberapa pekan meningggalkan tanah kelahiran, pengungsi diharapkan bisa tabah menghadapi cobaan. Perlu ada sebuah pemikiran, apa yang terjadi ini harus dilalui untuk mendapatkan sesuatu yang baik. “Ini peringatan dari beliau. Kita harus yakin setiap anugrah maupun berkah diawali dengan musibah. Kita jangan alergi dengan musibah,” kata Ida Rsi Putra Adnyana.

Sementara itu, terpilihnya Pura Watu Klotok sebagai tempat upacara, karena sesuai sejarah, ada leluhurnya yang berstana disana. Selain itu, saat upacara turun kabeh, bhatara di Pura Besakih masucian ke pura ini. “Ini juga ada kaitannya dengan konsep nyegara gunung,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Upacara, A.A Made Rai Arnata mengatakan upacara ini baru pertama kali dilakukan. “Untuk sekarang disini dulu. Untuk di pura lain, tak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan,” jelasnya. (Sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.