portal
Penjaga portal dari Badan Pengawas Pura Agung Besakih saat mendata warga yang akan masuk ke wilayah KRB, Senin (16/10). (BP/nan)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Portal yang dipasang di empat titik yakni Menanga, Batusesa, Suukan dan pertigaan Teges sebagai upaya pemantauan warga pengungsi yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang masih melakukan aktivitas. Untuk wisatawan dilarang masuk ke Besakih.

Anggota Badan Pengawas Pura Agung Besakih, Jro Gede Pande Sudarta, Senin (16/10) mengungkapkan, penjagaan di portal larangan masuk ini berdasarkan hasil koordinasi dengan pemerintah beberapa hari lalu.

Dikatakannya, pemasangan portal untuk melakukan pendataan terhadap warga pengungsi yang melakukan aktivitas di rumah mereka masing-masing serta untuk melakukan pendataan terhadap wisatawan dan warga lain luar Besakih yang akan masuk ke wilayah KRB.

“Kalau ada masyarakat lokal Besakih tidak ada pembatasan aktivitas. Termasuk warga lain di luar Besakih yang akan masuk juga kita data dan ditanyakan tujuan mereka masuk ke KRB. Untuk warga yang mau bersembahyang ke Besakih dari petugas kita yang akan mengantarnya. Itupun tidak boleh lama-lama. Sementara untuk wisatawan sama sekali tidak diijinkan masuk ke Besakih. Karena ini sebagai bentuk antisipasi, mengingat kita tidak tahu kapan Gunung Agung akan erupsi,” ungkapnya.

Baca juga:  Pengungsi Pilih Galungan di Posko Pengungsian

Dia menjelaskan, pemasangan portal larangan masuk di empat titik ini, sebagai upaya untuk mengamankan pretima-pretima yang ada di Besakih. Sebab, masih banyak pretima yang ada di pura-pura tidak dijaga. Makanya, pretima-pretima ini harus dijaga dan diamankan biar aman. Jadi diharapkan, dengan adanya portal ini bisa mencagah terjadinya pencurian pretima tersebut.

Kepala pelaksanan BPBD Bali, Dewa Made Indra mengungkapkan, sejatinya warga yang berada di KRB memang sudah tidak diijinkan untuk melakukan aktivitas. Namun, bagi warga yang masih memiliki ternak, memang masih tetap melakukan aktivitas.

“Sejatinya memang tidak diijinkan beraktivitas. Tapi kita tidak bisa melarang mereka begitu saja untuk tidak beraktivitas. Mereka secara diam-diam pulang ke rumah mereka. Asalkan kalau sudah selesai beraktivitas supaya segera kembali ke pengungsian. Itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan kalau Gunung Agung benar erupsi,” jelas Dewa Made Indra. (eka prananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.