kuartal
AA. Ngurah Alit Wiraputra. (BP/may)
DENPASAR, BALIPOST.com – Di awal kuartal IV tahun 2017, ekonomi Bali justru melemah. Hal ini diduga karena akibat dari tanda-tanda keaktifan Gunung Agung. Sehingga sangat berdampak pada sektor pariwisata dan sendi-sendi ekonomi yang lain. Hampir di semua bidang terjadi wait and see. “Contohnya, orang mau beli mobil, masih menahan diri,” kata AA. Ngurah Alit Wiraputra, Ketua Umum Kadin Bali, Selasa (10/10).

Menurutnya dampak dari Gunung Agung terjadi kenaikan harga (inflasi) terutama pasir. Hal ini sangat berdampak pada usaha jasa kontruksi. “Yang paling berdampak yaitu dari material seperti pasir dan batu yang sangat berkurang. Sehingga jasa konstruksi cenderung tidak bisa bekerja,” ungkapnya.

Saat ini harga pasir mencapai Rp 2,5 juta per truk, padahal harga normalnya Rp 1 juta – 1,2 juta per truk. Maka dari itu Kadin sedang mempersiapkan untuk mencari alternatif supply dari NTB dan wilayah lainnya.

Akibatnya, tender yang telah terlaksana, tidak berani dilanjutkan karena jika dilanjutkan pasti jasa kontruksi akan merugi. Sehingga proyek-proyek perlu dilakukan peninjauaan kembali.

“Kemarin dihitungnya Rp 1,5 juta per truk sekarang naik Rp 2,5 juta. Perlu kebijakan pemda dan pemerintah pusat untuk ditinjau kembali atau berikan tenggang wkaktu yang lebih panjang. Karena kalau tidak, akan rugi. Kalaupun mengambil bahan dari luar, ongkos transportasinya tinggi. Atau pemerintah berikan insentif tambahan harga, kurang lebih 5-10 persen untuk menyelesaikan proyeknya,” pungkasnya.

Baca juga:  Tiga Solusi Perkuat Koperasi

Tak hanya material bangunan, bahan pokok juga diantisipasi agar harganya tidak membumbung tinggi. “Kita sedang siapkan kerjasama dengan koperasi dan LPD. Bahan pokok tak boleh naik membumbung,” pungkasnya.

Maka dari itu Kadin dan Bulog bekerjasama dalam menyalurkan bahan pokok. “Kadin sudah menunjuk KKB untuk menjadi leading sektor untuk penyaluran beras Bulog yang berkualitas ini kepada masyarakat,” ungkapnya.

Begitu juga minyak goreng dan gula. Upaya ini juga sekaligus mengantisipasi kebutuhan hari raya Galungan dan Kuningan ditambah menjelang akhir tahun. “Oktober, November, Desember ini sangat riskan kalau tidak disiapkan dari sekarang,” tandasnya.

Tak hanya harga-harga yang naik, juga terjadu pengangguran yang siginifikan akibat dari adanya tanda-tanda erupsi Gunung Agung. Peningkatan pengangguran terselubung mencapai lebih dari 200.000 orang. “Pengangguran yang dibawa langsung oleh Gunung Agung  yaitu150.000 orang, sedangkan di luar itu mencapai 70.000,” ungkapnya.

Sektor pariwisata saat ini sedang berusaha keras agar dapat bertahan dari tekanan ekonomi ini. Terjadi 5-8 persen pembatalan kunjungan sehingga membuat situasi pariwisata terguncang. “Sementara wisatawan domestik (wisdom) belum ada yang berkunjung. Penurunannya sampai 12 persen. Padahal dalam situasi yang seperti ini, wisdom ini mendongkrak hunian kamar,” jelasnya. (citta maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.