pengungsi
Anak pengungsi belajar di sekolah terdekat. (BP/dok)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung, melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) setempat telah menerima ratusan siswa-siswi pengungsi Gunung Agung. Mereka tersebar di sejumlah sekolah, khususnya di tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Gumi Keris.

Berdasarakan data terakhir Disdikpora Badung, jumlah pengungsi yang diterima di sejumlah, yakni SD dan SMP mencapai 570 siswa. Mereka tersebar di setiap kecamatan, seperti siswa SD di Kecamatan Petang mencapai 33 siswa, Abiansemal 83 siswa, Mengwi 73 siswa, Kuta 37, Kuta Selatan 85 siswa. Sedangkan, siswa SMP di Kecamatan Petang mencapai 11 siswa, Abiansemal mencapai 63 siswa, Mengwi 39 siswa, Kuta Utara 45 siswa, Kuta 37, Kuta Selatan 52 siswa.

Selain diterima di SMP Negeri, para pengungsi juga diterima di SMP Parama Dipta 1 siswa, SMP Swatika Kapal 4 siswa, SMP Widya Brata 2 siswa, SMPK Harapan 1 orang, SMPK Thomas Aquino 1 orang, SMP Ngurah Rai Kerobokan 2 siswa, SMP Nusa Dua 2 siswa, dan SMP Dwijendra Bualu 3 siswa. “Untuk data SD belum termasuk siswa SD yang di Kuta Utara, karena kami belum menerima data dari UPT Kuta Utara. Namun, secara keseluruhan kami perkirakan jumlahnya akan terus meningkat,” Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (Disdikpora) Badung I Made Mandi, Minggu (1/10).

Baca juga:  BPBD Bangli Ajarkan Siswa Tanggap Bencana

Made Mandi menyatakan, bahwa akan tetap membuka sekolah bagi anak sekolah yang mengungsi di Kabupaten Badung. Dan disarankan untuk mencari sekolah terdekat dari tempat pengungsian.

Kepala Disdikpora Kabupaten Badung, I Ketut Widia Astika, kembali menegaskan, sudah menginstruksikan kepada semua UPT di Badung agar memfasilitasi anak-anak (pengungsi) yang memerlukan sekolah. Sehingga dengan ini kami juga bisa membantu mengurangi beban mereka akibat bencana ini. “Namun kami tetap sarankan, untuk pengungsi anak sekolah agar mencari sekolah terdekat dari lokasi pengungsiannya saat ini,” sarannya.

Sementara, untuk pakaian juga tidak masalah mereka menggunakan pakaian sekolah lamanya atau baju kaos sekalipun. Karena ini juga merupakan hal yang darurat. “Untuk seragam intinya jangan dipaksakan, gunakan apa adanya,” jelasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.