DENPASAR, BALIPOST.com – Guna mengedukasi keunggulan produk organik, Sanur Goes Organic digelar tiap Sabtu. Pada Sabtu (30/9), kegiatan yang dipusatkan di Spice by Chris Salans Sanur ini, menampilkan beragam bahan pangan organik.

Menurut pencetus Sanur Goes Organic, Chef Chris Salans yang juga pemilik Mosaic dan Spice by Chris Salans, bahan dan produk pangan organik memiliki rasa yang lebih enak dan gurih apabila dinikmati. Selain itu tentunya makanan yang dibuat dari bahan organik jauh lebih sehat dibandingkan dengan makanan berbahan non-organik.

Ia mengutarakan Sanur Goes Organik bertujuan untuk memberikan edukasi tentang produk organik serta membangun koneksi antara petani dengan wisatawan dan masyarakat. Ia mengakui kalau produk organik sedikit lebih mahal dibandingkan dengan produk biasa. Untuk itu dilakukan edukasi, karena banyak yang belum mengerti akan bahan organik dan kelebihannya.

Kegiatan yang dilangsungkan tiap Sabtu dari pukul 10 pagi sampai 4 sore ini tidak hanya sekedar menjual produk organik. Namun juga ditampilkan beberapa contoh masakan oleh beberapa chef.

Sehingga, selain menambah wawasan dan membeli produk langsung dari para petani, para pengunjung yang datang juga dapat mencicipi olahan produk organik yang dimasak para chef pada acara tersebut. Produk pertanian yang digelar pada acara tersebut 70 persen berasal dari petani organik Bali dan sisanya dari Jawa.

Chris menambahkan bahwa sebelum dibuka, ia melakukan pencarian petani organik Indonesia di internet. Hal itu dikarenakan petani organik di Indonesia jarang yang mempunyai sertifikat.

Peserta Sanur Goes Organic sebagian besar telah memiliki sertifikat, dan beberapa petani lokal yang telah ditinjau dan disetujui produk organiknya oleh pihak restoran. Setelah menggelar acara ini di Sanur, ia berencana akan menggelar acara serupa di wilayah Seminyak dan Ubud.

Baca juga:  Kendala Kutu, Ekspor Beras Merah Cendana Tahap II Dibatalkan

Selain Chef Chris Salan yang menampilkan Organic Grilled Veggies in Turmeric Dressing, pada Sanur Goes Organik kali ini juga mendatangkan Chef Massimo Sacco dengan masakan Ricotta Spinach Ravioli, Tomato Basil Sauce. Bahan untuk membuat masakan ini merupakan produk pertanian organik.

Mengenai penggunaan bahan organik yang lebih mahal dibandingkan non-organik pada makanan yang dijualnya di restoran, Massimo mengakali dengan mengurangi profit untuk mejaga kualitas. Ia menerangkan bahwa konsumen banyak yang belum siap dengan kesehatan, sehingga mereka pikir-pikir untuk membeli produk makanan organik yang sedikit lebih mahal.

Ditambahkan Ruben Rosenberg dari Bali Jiwa Organic, beberapa daerah di Bali telah mengembangkan produk organik. Seperti daerah Tabanan dan Gianyar untuk produksi sayuran, padi dan lainnya. Sedangkan daging diproduksi di beberapa kawasan Karangasem dan Jembrana.

Untuk petani organik yang belum memiliki sertikat, ia bersama lembaga yang telah bersertifikat melakukan inspeksi langsung ke petani tersebut. Ia menerangkan sebuah produk pertanian dianggap benar-benar organik apabila mulai dari bibit, pengairan, pemupukan hingga panen serta proses distribusinya tanpa menggunakan dan terkontaminasi bahan kimia.

Sedangkan produk peternakan organik apabila ternaknya tanpa hormon, vaksin ekstra, pakannya organik. “Semua prosesnya harus organik termasuk transportasi distribusinya tanpa ada kontaminasi,” terangnya. (Eka Adhiyasa/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.