Nengah Sutina. (BP/san)
TABANAN, BALIPOST.com – Mewujudkan kemandirian perekonomian masyarakat di tingkat perdesaan, Pemkab Tabanan mendorong masing-masing desa membentuk BUMDes yang menonjolkan potensi lokal dan memiliki nilai jual. Dari 133 desa di Tabanan telah terbentuk 87 BUMdes.

Salah satu BUMDes yang produknya mulai dilirik pasar adalah BUMdes Mengesta yang bergerak dalam penjualan produk pertanian mulai dari teh beras merah, beras merah dan beras hitam. Perbekel Mengesta, Nengah Sutina, Kamis (14/9) mengatakan keberadaan BUMdes di desanya sejak tahun 2014. Namun baru pada tahun 2017 ini operasionalnya mulai aktif dalam artian memiliki SDM yang mengelola dan gedung sebagai kantor.

Dulunya dalam menjual produknya kelompok tani menjual secara sendiri-sendiri. Semenjak BUMdes mulai aktif, produk yang dihasilkan oleh kelompok tani dijual melewati BUMdes.

Sutina melanjutkan, pihaknya mendorong kelompok tani untuk tidak menjual produk pertanian saja tetapi melakukan inovasi untuk mengolah produk pertanian sehingga memeliki nilai jual lebih. Dari beberapa kali pembinaan dihasilkan produk olahan berupa teh beras merah. Produk inilah yang menjadi produk unggulan BUMdes Mengesta dimana sudah banyak masyarakat yang meminati produk teh beras ini.

Baca juga:  Kendala Kutu, Ekspor Beras Merah Cendana Tahap II Dibatalkan

Meski belum memberikan keuntungan bagi BUMdes, menurut Sutina keberadaan BUMDes telah memberikan efek bagi peningkatan perekonomian warga terutama yang masuk dalan kelompok tani. Sebab, mereka memiliki kepastian pasar untuk menjual produk pertanian maupun teh beras mereka yang mereka olah.

Kata Sutina rata-rata kelompok tani menjual teh beras merah ke BUMdes sebanyak 25 kilogram per bulan. Pemasaran teh beras merah sendiri juga dibantu oleh BUMDA Tabanan. Selain teh beras merah, produk pertanian seperti beras jatiluwih, beras merah dan beras hitam juga memiliki pasar tersendiri. Untuk penjualannya, BUMdes Mengesta biasanya menyesuaikan dengan pemesanan. “Jadi jika ada yang memesan beras merah atau beras hitam barulah disediakan,” ujar Sutina.

Untuk biaya operasional dan kegiatan, BUMdes Mengesta mendapatkan bantauan dari Pemkab sebesar Rp 200 juta. Untuk pengembangan BUMDes sendiri kata Sutina akan terus dicari inovasi baru dengan berkoordinasi dengan subak maupun pelaku ekonomi terkait. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.