Ilustrasi
DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bali masih menjadi ancaman. Karena itu, semua komponen masyarakat tetap melakukan upaya untuk mengurangi wabah yang bisa menjakiti setiap orang.

Penanganan kasus DBD secara konsisten dilakukan untuk menekan penyebaran kasus ini. Selain DBD, kasus yang diwaspadai adalah chikunguya.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Gede Wira Sunetra, MPPM., yang ditemui di sela-sela pembukaan pelatihan tenaga pest control, Senin (11/9) mengungkapkan pada 2017 ini sebenarnya kasus DBD sudah turun. Namun, bila dibandingkan secara nasional, jumlahnya masih tinggi. “2017 ini kasusnya sudah bisa ditekan menjadi 75 per 100.000 penduduk,” katanya.

Dikatakan, kasus DBD sering kali menjadi KLB. Kondisi ini harus mendapat perhatian dan peran dari para petugas pest control ini sangat penting dalam upaya mencegah meluasnya kasus tersebut.

Baca juga:  Camat Baturiti Tos Partha Meninggal Karena Serangan Jantung

Pihaknya berharap agar kasus DBD bisa ditangani, sebagaimana kasus malaria. Kasus malaria sudah bisa dieliminasi pada 2014. Hanya, sering kali orang yang baru masuk dari daerah lain, membawa serta kasus malaria. Mengingat, daerah lain masih banyak yang belum mampu mengeliminasi kasus malaria.

Sementara itu, sebelumnya kasus ini di Denpasar cenderung mengalami tren menurun setiap bulan. Kondisi ini terbalik pada tahun lalu yang mengalami peningkatan setiap bulannya.

Kadis Kesehatan Kota Denpasar dr. Luh Putu Sri Armini, beberapa waktu lalu mengatakan, saat ini dilihat dari jumlah kasus, Denpasar berada pada rangking tujuh dari sembilan kabupaten/kota se-Bali. Ini artinya, Denpasar sudah bisa menekan kasus DBD sehingga berhasil berada pada posisi ketujuh. “Kalau sebelumnya Denpasar selalu menduduki rangking satu, sekarang sudah pada posisi ketujuh,” jelas sri Armini. (Asmara Putera/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.