Hewan yang mirip penyu ini ditemukan di parit dan dinamai Bedawang Nala oleh warga. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Desa Adat Bugbug, Karangasem, tak henti-hentinya memunculkan cerita aneh. Setelah sempat heboh dengan kedatangan seekor menjangan, kehebohan lain adalah munculnya hewan langka mirip penyu dewasa di tengah parit, belum lama ini.

Bentuknya mirip penyu, tetapi setelah dilihat lebih jelas ada banyak perbedaan. Lantaran kemunculannya yang misterius, warga menyebutnya seperti “bedawang nala”, simbol gerak dinamis kehidupan di bumi yang sering dijadikan dasar fungsi dan motif hias pada palinggih padmasana umat Hindu.

Penuturan Klian Desa Adat Bugbug, Jro Wayan Mas Suyasa, saat ditemui Minggu (3/9) tadi, hewan misterius ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani di desa setempat. Awalnya, petani ini sedang membersihkan parit dengan cangkulnya.

Di tengah upayanya itu, dia nampak heran setelah cangkulnya membentur benda deras di dasar parit yang tidak terlalu luas dan lebar itu. Penasaran dengan benda itu, dia berusaha mengeluarkannya. Tetapi, setelah mencangkul parit itu lagi berulang kali, cangkulnya terus membentur benda keras seperti batu.

Makin penasaran, dia sangat kaget, setelah keluar sebuah kepala dari benda keras itu. “Setelah muncul ke permukaan, petani ini baru sadar, kalau cangkulnya itu ternyata membentur cangkang hewan mirip penyu ini. Ukurannya cukup besar. Setara penyu dewasa di laut,” kata Jro Wayan Mas Suyasa.

Warga tidak menyangka, ada hewan seperti ini di dasar parit. Padahal, sebelumnya hewan ini tak pernah terlihat. Ini mengejutkan, karena antara hewan dan tempat penemuannya tidak sesuai.

Panik dengan temuannya itu, petani ini sempat meminta bantuan petani lainnya untuk mengangkat hewan misterius ini ke tempat lapang. Lantaran bentuknya mirip penyu, akhirnya petani itu dan teman-temannya sepakat segera membawanya ke pantai dan melepaskannya ke tengah laut di Desa Adat Bugbug.

Tetapi, setelah di lepas, beberapa jam kemudian nelayan setempat menemukan hewan misterius berwarna hitam pekat ini kembali ke tepi pantai. Bingung dengan situasi itu, nelayan dan warga sekitar lantas melaporkannya kepada Klian Desa Adat Bugbug, langsung membawa hewan misterius ini ke rumahnya.

Pengamatan Klian Desa Jro Wayan Mas Suyasa, hewan misterius ini bukan hewan sembarangan. Bentuknya memang seperti penyu, tetapi bentuk cangkangnya sangat berbeda. Demikian juga bentuk kepalanya. Mulutnya lancip, hidungnya seperti hidung babi dan warnanya juga hitam pekat.

Baca juga:  Rujukan Online Banyak Tuai Keluhan, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan

Setelah mendengar cerita petani dan para nelayan, Jro Mas Suyasa menilai bahwa hewan ini adalah sejenis penyu air tawar. Sebab, dia tidak mau hidup di tengah laut. Untuk melindungi hewan ini dan kelangsungan hidupnya, Jro Wayan Mas Suyasa mengatakan pihaknya memutuskan melepasnya di kolam besar yang penuh dengan bunga tunjung di tengah objek wisata Candidasa.

Pelepasannya di areal itu dilakukan dengan ritual khusus, sekaligus menegaskan kepada warga Desa Adat Bugbug agar tidak memburunya. “Melihat bentuknya yang aneh, hewan ini seperti bedawang nala. Kita juga akhirnya menyebutnya dengan nama bedawang nala,” katanya.

Secara niskala, Jro Wayan Mas Suyasa melihat kemunculan hewan misterius ini sebagai pertanda baik bagi desa. Hewan “bedawang nala” itu, melambangkan kurma awatara.

Dalam kisah watugunung juga disebutkan bahwa badawang berupa seekor kurma yang berkuku kuat, berlidah cakra, bertaring tajam, suligi atau berbelai bajra yang amat utama dan amat dasyat wujud kura-kura itu serta besar badannya. Kemunculannya di Desa Adat Bugbug, sebagai pertanda anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Desa Adat Bugbug sejak dulu sampai sekarang mampu menjaga segala tradisi ritual keagamaan sebagai salah satu desa tua di Bali.

Desa ini mampu mempertahankannya di tengah modernitas dan upaya menyeragamkan ritual keagamaan di setiap desa di Bali. Dia mengaku paling tidak setuju adanya penyeragaman ritual atas dasar apapun, karena masing-masing desa punya cara sendiri. “Saya paling menentang adanya perubahan-perubahan ritual keagamaan yang sudah menjadi tradisi di desa sejak dulu. Kalau alasan efisiensi, biaya tinggi, yang harus diubah bukan ritual dan kelengkapan sarananya, tetapi hal-hal yang berkaitan dengan pesta-pesta pora, yang menghabiskan biaya tinggi. Itu baru pantas dikurangi,” tegasnya.

Kini, hewan misterius ini menjadi daya tarik wisata tersendiri di kolam itu, pasca dilepas disana beberapa pekan lalu. Banyak wisatawan asing dan lokal berupaya melihatnya, karena penemuan hewan langka itu masih menjadi buah bibir ke desa-desa lain. Sayangnya, sejak di lepas disana, kemunculannya kini jarang terlihat. Ini juga karena kolam ini cukup luas dan penuh dengan bunga tunjung. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.