Warga di Bukit Tengah, Desa Pesinggahan kesulitan air bersih selama bertahun-tahun. Hal serupa juga terjadi di Desa Pejukutan dan Sekartaji, Nusa Penida. (BP/sos)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Memasuki musim kemarau, masyarakat di Desa Sekartaji, Kecamatan Nusa Penida mengalami krisis air bersih. Kondisi ini rutin terjadi setiap tahun. Upaya Penanganan sejatinya sudah muncul dari pemerintah provinsi Bali. Hal tersebut ditunjukkan dengan pemasangan pipa pada 2012 lalu.

Hanya saja, sampai saat ini air tak kunjung mengalir ke permukiman. Masyarakat pun mempertanyakan kondisi tersebut. Persoalan serupa juga membelit sejumlah desa lainnya.

Perbekel Sekartaji, I Made Carma menjelaskan layanan air bersih benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, terutama untuk konsumsi. Namun, hal tersebut sampai saat ini masih terbatas mimpi. Upaya Pemerintah Provinsi Bali untuk mengalirkan air dari salah satu sumber juga belum membuahkan hasil. “Yang jelas air benar-benar dibutuhkan. Pipa sudah terpasang sejak 2012, tapi tak ada air mengalir. Kami sudah sempat tanyakan ini kepada yang menangani. Kalau bisa bisa segera berfungsi,” ungkapnya, Selasa (29/8).

Guna bertahan hidup, warga terpaksa menggunakan air hujan yang tertampung dalam cubang. Menginjak musim yang sudah semakin panas, beberapa juga sudah mulai membeli dengan harga yang lumayan mahal. Hal tersebut secara otomatis menyebabkan pengeluarannya bertambah dan menjadi beban. “Sampai sekarang juga belum ada suplai dari PDAM,” terangnya.

Kondisi serupa juga melanda Desa Pejukutan, Nusa Penida. Perbekel setempat, I Nyoman Yudiadnyanawan menjelaskan krisis air sudah menjadi persoalan klasik selama bertahun-tahun. Bahkan sejak dua bulan lalu, masyarakat sudah mulai membeli dengan harga Rp 10 ribu per jirigen. “Bahkan saya juga sudah membeli. Ada juga warga yang menggunakan air hujan,” tuturnya.

Baca juga:  Investasi di Nusa Penida Diarahkan ke Kawasan Timur

Krisis air, sambung dia tak hanya berdampak pada hidup masyarakat, namun juga sektor pariwisata yang kini mulai berkembang dan pertanian. “Pariwisata dan air selalu berdampingan. Sering pengelola menanyakan ini. Sampai ada yang mengusulkan untuk pengadaan mobil tanki. Tapi Karena APBDes tahun ini sudah tersusun, saya sampaikan tidak bisa. Itu kami upayakan tahun depan,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Klungkung Nyoman Renin Suyasa mengungkapkan selain dua desa tersebut, rawan krisis air juga melanda Desa Bunga Mekar dan Kutampi bagian atas, Nusa Penida. Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Dawan, yakni Bukit Tengah, Desa Pesinggahan dan Bukit Abah, Desa Besan. “Untuk pemenuhan air, kami sudah melakukan suplai. Itu sesuai permintaan. Khusus untuk desa di Nusa Penida, sudah ditangani pemrov dengan pembangunan jaringan. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa terlayani. Kalau untuk di Bukit Tengah dan Abah, itu disuplai oleh BPBD,” terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung I Putu Widiada mengungkapkan khusus suplai air ke Bukit Tengah dilakukan setiap minggu sekali. Namun jika ada permintaan mendesak, tetap terlayani. “Air ini diutamakan untuk kebutuhan konsumsi. Basanya rutin disuplai setiap Kamis. Hanya satu tanki,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.