Warga mengikuti simulasi bencana di Badung. (BP/ist)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Kabupaten Badung berdasarkan pemetaan masuk dalam wilayah yang berisiko tinggi terhadap bencana alam. Ada tiga bencana alam yang sangat rawan di wilayah ini, yakni longsor, angin kencang, maupun banjir/tsunami. Desa tangguh bencana merupakan desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan jika terkena bencana.

Karena itu, pemeritah setempat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendirikan desa tangguh bencana. Dari 62 desa/kelurahan yang ada telah terbentuk forum pengurungan resiko bencana di 21 desa/kelurahan. “Tujuannya adalah untuk pengurangan resiko bencana saat bencana benar-benar terjadi, karena wilayah Badung memiliki titik kerawanan bencana,” ujar Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Badung, I Wayan Netra, Senin (28/8).

Menuruntya, seluruh desa ditargetkan membentuk desa tangguh bencana pada 2021. Sebab, pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat merupakan proses pengelolaan risiko bencana yang melibatkan secara aktif masyarakat yang beresiko. Diantaranya, dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau dan mengevaluasi risiko bencana untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kemampuannya. “Kami menargetkan pada tahun 2021 nanti seluruh desa/kelurahan sudah terbentuk desa tangguh bencana. Karena ini sesuai dengan visi misi bapak bupati,” tegasnya.

Baca juga:  Puluhan Warga Karangasem Ngungsi di Badung

Dikatakan, pihaknya terus melakukan langkah-langkah dan program kegiatan dalam upaya pengurangan risiko bencana di masyarakat. Salah satunya dengan menggelar simulasi bencana yang dilakukan di Desa Getasan, Kecamatan Petang. Simulai ini melibatkan warga setempat, pihak Kecamatan Petang, Desa Getasan, Pustu, aparat kepolisian/TNI, dan BPBD Badung. Hampir 200 orang terlibat dalam simulasi kali ini. “Simulai bencana longsor kami lakukan dalam rangka pembentukan desa tangguh bencana. Selain di Getasan, simulai juga akan diselenggarakan di desa lainnya,” katanya.

Kepala BPBD Badung I Wayan Wijaya juga berharap melalui simulai bencana seperti ini, masyarakat dapat memahami apa yang harus dilakukan saat betul-betul bencana terjadi. Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi resiko bencana itu sendiri.

BPBD Badung telah mengambil langkah-langkah antisipasi bencana seperti, memasang sirine peringatan dini 5 buah, bekerjasama dengan forum PRB dan Pusdalops Provinsi Bali, membuat peta evakuasi tsunami di 18 desa/kelurahan dan peta rawan bencana tanah longsor, pemasangan papan informasi serta rambu-rambu tanah longsor di Kecamatan Petang, Abiansemal dan Mengwi. Yang tidak kalah pentingnya kerjasama dengan dunia usaha, khususnya hotel yang memiliki gedung tiga lantai ke atas untuk evakuasi vertikal. (Parwata/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.