Ilustrasi. (BP/ist)
DENPASAR, BALIPOST.com – Secara garis besar, sakit kepala dibagi menjadi dua kelompok, yakni sakit kepala primer dan sekunder. Sakit kepala primer terjadi tanpa adanya penyakit lain yang mendasari.

Sebaliknya, sakit kepala sekunder umumnya timbul akibat adanya kondisi medis lain yang dapat lebih serius. Beberapa jenis sakit kepala primer yang umum ditemukan adalah sakit kepala tipe tensi (tension-type headache), tipe kluster (cluster-type headache), dan migrain.

Penanganan sakit kepala pun umumnya bergantung dari tipe tersebut. Berikut beberapa penanganan yang umum digunakan untuk mengatasi sakit kepala, dikutip dari klikdokter.com :

1. Sakit kepala tipe tensi (tension-type headache)

Keluhan yang umum dirasakan oleh seseorang yan mengalami tension-type headache adalah kepala terasa berat atau seperti ditekan. Pada sakit kepala jenis ini, dokter umumnya meresepkan obat golongan parasetamol atau obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).

Pemberian obat tergantung dari preferensi pasien, adanya penyakit penyerta, adanya alergi pada jenis obat tertentu, atau risiko terjadinya efek samping.

Baca juga:  Membahayakan, Pemerintah Didesak Segera Tangani Jalan Jebol di Abuan

Pada seseorang yang mengalami nyeri yang sangat hebat, dapat juga dipertimbangkan penggunaan obat gabungan antara parasetamol dan kafein.

2. Sakit kepala tipe kluster (cluster-type headache)

Pada cluster-type headache, umumnya pasien mengeluh terdapat nyeri hebat pada bagian kepala tertentu. Misalnya nyeri di belakang bola mata yang sangat mengganggu, hingga keluar air mata.

Sakit kepala tipe ini umumnya ditangani bergantung dari derajat keparahannya, dan dokter dapat meresepkan obat golongan triptan. Oksigen juga dapat diberikan bila dinilai dibutuhkan.

3. Migrain

Nyeri kepala migrain umumnya ditandai dengan rasa nyeri pada satu sisi dari kepala, yang dapat didahului dengan aura, yakni rasa mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, dan sebagainya. Dalam penanganan migrain, dokter umumnya meresepkan obat golongan triptan, OAINS, atau parasetamol, yang juga bergantung dari preferensi pasien, adanya penyakit penyerta, serta riwayat alergi obat.

Bila disertai mual, obat mual juga dapat diberikan. (Goes Arya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.