penglipuran
Pengelola Objek Wisata Desa Penglipuran berencana bakal menambah sejumlah fasilitas seperti musesum bamboo, kolam renang, dan arena bermain. (BP/nan)
BANGLI, BALIPOST.com – Pengelola Desa Wisata Penglipuran berencana bakal menambah sejumlah fasilitas baru untuk menunjang objek wisata Penglipuran salah satunya museum bambu. Untuk pembangunan museum itu, pihak desa adat sudah menyiapkan lahan seluas 20 are.

Pengelola Objek Wisata Desa Penglipuran I Nengah Moneng, Minggu (20/8), mengungkapkan bahwa fasilitas pendukung objek Wisata Desa Penglipuran yang akan di bangun seperti museum bambu, kolam renang tradisional, dan fasilitas bermain.

Kata Moneng, sebelumnya pihaknya telah bertemu dengan bendasa adat Penglipuran. Hasil pertemuan yang dilakukan, bendesa adat meminta untuk menunggu mengingat masih dalam proses. “Kita diminta untuk menunggu karena prosesnya belum final,” ungkap Moneng.

Moneng menambahkan, bendesa adat Penglipuran sudah sempat bertemu dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dan ahli bambu dari Universitas Udayana, ibu Diah belum lama ini untuk membicarakan rencana membanguan museum bambu itu. Dari pertemuan itu, pihak desa diminta untuk menyiapkan lahan seluas 20 are untuk pembangunan fasilitas pendukung objek wisata itu.

“Dari pihak desa masalah lahan yang diminta sudah tidak ada masalah. Karena bendesa adat sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan museum bambu. Lahan 20 are yang disiapkan itu berada di sebelah timur di lapangan yang ada di desa. Jadi pada intinya kita sifatnya menunggu saja,” tegas Nengah Moneng.

Dia mengungkapkan, sementara untuk membuatan kolam renang tradisional, pihak desa sejauh ini masih membuat rancangan baru terkait lokasi yang bakal dipergunakan mebangun kolan renang itu. Sebab, tempat yang awal direncanakan untuk itu yakni sungai sangsang sudah dimanfaatkan warga untuk menaikkan air memakai kincir angin. “Kalau lahan untuk membuatan fasilitas bermain disiapkan lahan di sebelah barat,” jelasnya.

Baca juga:  Banyak Desa Wisata Belum Berkembang Maksimal

Lebih lanjut dijelaskannya, penambahan sejumlah fasilitas tersebut untuk menunjang objek wisata Penglipuran. Dengan penambahan fasilitas yang dilakukan itu, nantinya diharapkan para pengunjung yang datang tidak bosan.

Sebab, selama ini pengunjung hanya menikmati objek wisata dengan jalan-jalan saja. Sehingga diharapkan, dengan dibuatkannnya museum bambu, kolam renang tradisonal, dan tempat bermain anak-anak, para pengunjung akan merasa nyaman dan lebih terhibur ketika berkunjung.

“Ide untuk membuat fasilitas bermain juga datang dari para pengunjung. Jika nanti pembanguanan itu terialisasi, maka pengunjung akan lebih enak. Khusus untuk anak-anak pasti senang jika disediakan tempat bermain. Jadi mereka tidak jenuh ketika berlibur ke Penglipuran,” jelas Moneng.

Sementara itu, Bendesa Adat Penglipuran I Wayan Supat mengungkapkan, sejauh ini rencana pembangunan penunjang fasilitas masih dalam tahap pembahasan. Kata dia, untuk rencana pembangunan museum bambu memang sudah ditindaklanjuti, hanya belum final. “Nanti untuk pembangunan museum bambu pihak desa memang sudah menyiapan lahan 20 are. Dana yang dipakai untuk pembangun museum bambu itu dari pemerintah pusat. Kita dari masyarakat tinggal menunggu saja,” ungkapnya.

Supat menambahkan, sementara itu rencana untuk membangunan kolam renang tradisional dan fasilitas bermain juga masih dalam pembicaraan. Termasuk dana pendukung untuk pembangunan dua fasilitas itu juga belum dipastikan. “Yang sudah sering kita dibicarakan yakni masalah pembangunan fasilitas bermain. Kalau untuk rencana kolam renang tradisional masih dibicarakan lebih lanjut. Sebab, untuk membuat kolam renang tradisional harus didukung dengan air. Jadi inilah yang harus dibicarakan lagi seperti apa nantinya,” tegas I Wayan Supat. (eka prananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.