sayur
Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Made Adi Wiguna, M.Kes. (BP/may)
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjamurnya warung fast food mengundang keprihatinan banyak pihak. Lantaran fast food tidak baik untuk kesehatan. Fast food adalah makanan cepat saji yang biasanya digoreng. Makanan yang digoreng mengandung lemak dan kadar garam yang sangat tinggi. Hal ini memicu kolesterol menjadi tinggi dan darah mengental sehingga terjadi tekanan darah tinggi/hipertensi.

Ditambah dengan penggunaan minyak jelantah untuk menggoreng makanan tersebut. Minyak jelantah adalah minyak yang digunakan berkali-kali. “Sekarang dipakai, besok dipakai lagi. Padahal sudah dipakai menggoreng berkali-kali,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Made Adi Wiguna, M.Kes.

Maka dari itu saat ini pemerintah sedang menggalakkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Terdiri dari 5 program yaitu, melakukan aktivitas fisik yang cukup, makan buah dan sayur, cek kesehatan secara rutin, tidak merokok, dan pemberantasan sarang nyamuk.

Ia menuturkan di SKPD-SKPD kini telah menerapkan gerakan makan sayur dan buah. Bahkan saat rapat, snack diganti sayur dan buah. Khusus di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, setiap jam 10 melakukan senam untuk meregangkan otot.

Baca juga:  Memiliki Enzim Sama dengan Jeruk, Delima Jangan Dimakan Bersamaan dengan Obat

Berdasarkan survei nasional tahun 2014, konsumsi buah dan sayur masyrakat Indonesia sangat rendah, hanya 57,1 gram/hari. Padahal idealnya setiap orang harus mengonsumsi buah dan sayur 200gram/hari atau lebih. “Terutama anak-anak sangat kurang mengonsumsi sayur dan buah, lebih menyukai fast food tadi,” ungkapnya.

Berdasarkan perilaku tersebut, tak heran berbagai penyakit yang disebabkan gaya hidup yang tidak sehat cenderung meningkat seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker. Di RSUP Sanglah setiap bulannya terdapat 76 pasien baru melakukan HD. HD adalah terapi cuci darah untuk penyakit gagal ginjal akibat dari gaya hidup yang kurang sehat. Belum lagi kasus baru penyakit kanker. Selain itu, masalah yang dihadapi Bali kini tidak lagi kekurangan gizi, karena tren obesitas pada anak-anak cenderung meningkat.(citta maya/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.