NEGARA, BALIPOST.com – Pengelolaan lingkungan Bali harus dilakukan sebagai satu kesatuan, nyegara gunung. Sebab, persoalan lingkungan di hulu akan berdampak juga di hilir.

Menurut Manager Program Bali, Conservation International Indonesia, Made Iwan Dewantama konservasi harus dilakukan dengan konsep Nyegara Gunung. “Bali adalah pulau kecil, jadi apa yang terjadi di hulu sangat cepat berdampak ke laut. Termasuk soal sampah. Sampah yang ada di darat menjadi pencemar terbesar di laut,” jelasnya.

Ia mengatakan Indonesia menjadi negara penyumbang sampah di laut terbesar kedua di dunia. Karena itu dalam rangka Hari Bumi yang dirayakan tiap 22 April, sejumlah elemen menggelar aksi bersih sampah.

Salah satunya dilakukan ratusan siswa SMA se-Jembrana dalam Mangrove Clean Up yang juga melibatkan UPT KKP se-Bali, UPT Pemerintah Daerah Jembrana, LSM, dan Kelompok masyarakat peduli lingkungan. Bersih sampah di Hutan Mangrove ini merupakan rangkaian Peringatan Hari Bumi 2017 dilaksanakan di Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL).

Baca juga:  Masa Depan Bali "Dihantui" Pencemaran Lingkungan

Dalam mangrove clean up, peserta berhasil mengumpulkan sampah dengan berat mencapai 100 kg. Jenis sampah yang banyak ditemui adalah sampah rumah tangga seperti popok bayi dan plastik.

Kepala BPOL, Dr. I Nyoman Radiarta, berharap peringatan Hari Bumi 2017 bisa menjadi momentum awal bersama menjaga bumi. “Semoga di tahun depan bisa ada acara serupa dan lebih bervariasi,” harapnya.

Rangkaian Peringatan Hari Bumi juga diisi dengan presentasi tentang inovasi alat penangkap sampah di mangrove “Mangrove-Bin” oleh Hanggar Prasetio dari Conservation Internasional Indonesia. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.