mobil
Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama sejumlah anggota dewan menjenguk Febri, anak yatim piatu yang tinggal di gubuk dengan kakeknya. (BP/bit)
TABANAN, BALIPOST.com – Raut wajah bahagia tersirat di wajah mungil I Putu Febri Arta Putra (6), bocah yatim piatu yang hanya tinggal bersama kakeknya Wayan Cakra (76) di banjar Tanah Bang, Desa Kediri, kecamatan Kediri Tabanan. Pasalnya, ia mendapat hadiah mobil remote dari Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menyambangi rumahnya, Selasa (21/3).

Bahkan usai menerima hadiah mainan tersebut, ia pun dengan asyik memainkannya tanpa mempedulikan banyak orang yang saat itu ada dirumahnya.

Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama sejumlah anggota dewan mengatakan usai mendapatkan informasi mengenai kondisi Putu Febri di sejumlah media, ia pun berinisiatif melihat langsung kondisi anak tersebut. Ia tak canggung menggendong Putu Febri sembari menyerahkan sejumlah uang tunai untuk biaya hidup Febri dan kakeknya.

Melihat keterbatasan ekonomi Kakek Febri, Wabup Sanjaya pun menyarankan agar Febri dibawa ke panti asuhan untuk bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Wabup berjanji akan mencarikan panti asuhan yang cocok untuk Febri nantinya.

Menurut Wabup Sanjaya, di usia yang masih sangat muda, Febri memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. “Kita akan carikan solusi untuk masa depan Febri,”ucapnya.

Dan terkait kondisi rumah Wayan Cakra, kakek dari Putu Febri, Wabup mengatakan akan di renovasi. Pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk program rehab rumah tersebut. Apalagi kondisi rumah yang ditempati hampir 40 tahunan itu dindingnya ada yang roboh dan atapnya banyak yang bocor. Karenanya, Cakra dan Febri kerap merasa kedinginan saat tidur malam hari dan kehujanan saat hujan turun. “Saya juga akan ajak teman teman di dewan gotong royong merehab rumah ini agar layak untuk dihuni,” ucapnya.

Baca juga:  Wakil Bupati Tabanan Memilih di TPS 05 Dauh Pala

Seperti diberitakan sebelumnya, Putu Febri yang sudah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, justru tidak mau sekolah. ‘’Dia sudah saya masukkan ke SD dekat rumah. Tiap hari saya antar pakai sepeda gayung. Baru tiga bulan sudah tidak mau masuk lagi,’’ ujar Cakra.

Bahkan berbagai cara sudah dilakukan Cakra agar cucunya ini mau sekolah. Tetapi Febri tetap tidak mau berangkat ke sekolah dan memilih untuk diam di rumah bersama kakeknya tersebut.

Keseharian Febri hanya bermain seorang diri dengan sepeda gayungnya di areal depan rumahnya.  Cakra melanjutkan, ayah Febri adalah anak ke-3 dari enam orang anaknya bernama I Komang Sukarata. Ia meninggal karena sakit sekitar tiga tahun lalu. Lalu cucunya yang ke dua atau adik Febri bernama  Kadek Dharma meninggal saat usianya satu setengah tahun. Tidak sampai di sana, ibu Febri, I Nengah Merta menyusul suami dan anak bungsunya. Ia meninggal setahun yang lalu. (puspadewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.