Siswa SMK sedang membaca koran saat orientasi siswa baru. (BP/dok)

Oleh Djoko Subinarto

Imparsialitas media arus utama dan budaya berpikir kritis menjadi dua aspek penting dalam ikut menangkal maraknya berita-berita hoax dewasa ini. Presiden Joko Widodo menyatakan berita-berita hoax yang berseliweran di media sosial telah ikut memusingkan pemerintah seraya menambahkan bahwa berbeda dengan media arus utama yang bisa diajak bekerjasama, media sosial tak bisa diperlakukan sama.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat memberikan sambutan dalam acara Hari Pers Nasional 2017 di Ambon, Maluku. Memang, salah satu faktor yang ikut mendorong maraknya hoax adalah keberadaan media sosial, yang notabene merupakan salah satu buah dari kemajuan di bidang information technology alias teknologi informasi.

Seperti kita ketahui, selain sebagai sarana untuk mempererat dan menambah pertemanan, media sosial juga berfungsi untuk menyebarkan aneka ragam informasi secara cepat dan masif, melampaui batas-batas geografis maupun personal. Sayangnya, tak jarang informasi yang disebar lewat media sosial adalah yang mengumbar kebencian.

Faktanya, kalau kita buka media sosial, maka selalu saja bisa kita temukan unggahan-unggahan yang bernada kebencian, seperti penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan, serta berita-berita bohong alias hoax, baik yang ditujukan kepada perseorangan, kelompok maupun lembaga. Tentu saja, ini adalah salah satu dampak negatif dari sebuah kebebasan bermedia sosial.

Siapa pun memang bisa menggunggah apa saja yang dikehendakinya lewat media sosial. Meskipun demikian, para pengguna media sosial seyogianya senantiasa memiliki kemampupuan memilih dan memilah mana yang layak dan mana yang tidak layak mereka unggah ke media sosial.

Repotnya, sebagian besar masyarakat kita saat ini justru cenderung lebih gampang mempercayai informasi-informasi yang disebarkan lewat media sosial ketimbang informasi-informasi yang disiarkan oleh media-media arus utama. Kenapa bisa demikian?

Sejumlah kalangan berpendapat kecenderungan sebagian besar masyarakat kita yang lebih senang berpaling kepada informasi yang disebar lewat media sosial lantaran mereka menganggap media-media arus utama kita sudah kehilangan kemadiriannya, khususnya semenjak pemilihan presiden 2014.

Baca juga:  Anggota DPR Bentuk Pasukan Antihoax

Menjelang dan selama pemilihan presiden 2014 lalu, sebagaian besar media arus utama kita terpolarisasi menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Beberapa media bahkan secara terang-terangan memihak salah satu kubu. Sementara itu, sejumlah pemilik media juga terlibat langsung dalam politik praktis, dengan menjadi petinggi partai politik.

Buntutnya, kepercayaan publik kepada media arus utama — yang seharusnya selalu mandiri dan berdiri di tengah-tengah — melorot, menjadikan kredibilitas media arus utama pun dipertanyakan. Publik kemudian berpaling kepada media sosial sebagai alternatif dalam memperoleh informasi.

Realitanya, kini siapa pun dapat memproduksi informasi, baik itu teks, gambar, audio maupun video, dan menyebarkannya lewat media sosial dengan seketika. Celakanya, tidak semua informasi yang didistribusikan lewat media sosial itu benar dan akurat. Ada saja berita-berita palsu atau bohong yang tujuannya antara lain untuk memprovokasi, menghasut, memfitnah serta mengadu-domba antarelemen masyarakat.

Banyak dari masyarakat kita yang kurang kritis. Mereka dengan gampang langsung percaya apa saja yang mereka lihat, baca atau dengar lewat media sosial, tanpa mau melakukan cek, ricek dan ricek. Di sinilah letak persoalannya.

Maka, salah satu cara untuk menangkal hoax adalah dengan cara segera mengembalikan lagi marwah media arus utama kita agar menjadi penyedia informasi yang akurat, berimbang, objektif, serta tetap setia menjadi anjing penjaga kekuasaan di negeri ini, sehingga kekuasaan tidak sampai disalahgunakan. Untuk dapat menjalankan tugas mulia tersebut, tentu saja, news room media arus utama harus harus benar-benar merdeka, steril dari kepentingan apa pun, baik yang datangnya dari pihak eksternal maupun dari pihak internal.
Penulis adalah kolumnis, alumnus Universitas Padjadjaran, Bandung

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.