Dr. Nelly, S.Kom., M.M dan Stephen Wahyudi Santoso, BSE, MSIST, memberikan keterangan terkait pelaksanaan forum pendidikan tinggi se-Asia Pasifik, Selasa (3/11) di Nusa Dua, Badung. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali menjadi tuan rumah forum pendidikan tinggi internasional se-Asia Pasifik, QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 yang dibuka Selasa (3/11) di Nusa Dua, Badung. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini akan membahas tren, tantangan, serta masa depan pendidikan tinggi, termasuk reputasi akademik, pemeringkatan global, kinerja institusi, dan kolaborasi internasional.

Menurut tuan rumah penyelenggaraan forum ini, Stephen Wahyudi Santoso, BSE, MSIST, memasuki penyelenggaraan ke-22, forum yang mengangkat tema utama “Advancing Education for Purpose and Impact” ini mempertemukan lebih dari 1.500 pimpinan universitas, akademisi, pembuat kebijakan, dan pakar pendidikan dari berbagai negara. Ia mengatakan penyelenggaraan forum ini menjadi momentum penting dalam memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Dijelaskan President of Binus Higher Education & Professional Services tersebut, pendidikan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi hingga tuntutan untuk mempersiapkan lulusan dengan kompetensi yang relevan. “Melalui forum ini, kami berharap dapat mendorong pertukaran pengetahuan, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta bersama-sama mengeksplorasi solusi bagi tantangan pendidikan tinggi saat ini dan ke depan,” katanya.

Baca juga:  Tingginya Kasus Bundir di Bali Jadi Sorotan PKHI

Ia mengungkapkan dalam lima tahun terakhir, forum ini telah diselenggarakan di sejumlah kota, termasuk Jakarta, Kuala Lumpur, Makau, dan Seoul, sebelum kembali ke Indonesia melalui penyelenggaraan di Bali pada 2026.

Stephen mengutarakan selain memperkuat jejaring internasional, kesempatan ini juga membuka ruang bagi Indonesia untuk berbagi perspektif dan berkolaborasi dengan komunitas pendidikan tinggi di kawasan Asia-Pasifik dalam merespons berbagai tantangan yang terus berkembang.

Berbagai topik strategis dibahas dalam forum ini, mulai dari pemanfaatan AI dalam pendidikan, pengembangan kurikulum yang relevan untuk pekerjaan masa depan hingga inovasi yang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan untuk masa depan.

Terkait AI, praktisi pendidikan tinggi, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, mendorong perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi pendekatan pembelajarannya agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.

Baca juga:  Manusia Bali Mesti Jadi SDM Unggul

“Kami melihat AI sebagai salah satu alat yang dapat mendukung proses belajar dan kreativitas mahasiswa. Karena itu, yang penting bukan hanya memperkenalkan teknologi ini, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menggunakannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” sebut perempuan yang menjabat Rektor Binus University ini.

Perubahan teknologi dan otomatisasi turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja, sehingga perguruan tinggi dituntut untuk terus menyesuaikan pendekatan pendidikan dengan perkembangan industri.

World Bank mencatat bahwa pada periode 2018–2022, adopsi robot industri di lima negara ASEAN, termasuk Indonesia, diperkirakan berkontribusi terhadap terciptanya sekitar 2 juta pekerjaan formal bagi pekerja berketerampilan tinggi, sekaligus menggeser sekitar 1,4 juta pekerjaan formal bagi pekerja berketerampilan rendah.

Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi turut mengubah kebutuhan keterampilan di dunia kerja, sehingga penting bagi perguruan tinggi untuk mempersiapkan lulusan yang relevan dan adaptif terhadap perubahan.

Baca juga:  Penumpang Kapal Meninggal Saat Menyeberang

Menjawab tantangan tersebut, ia mengaku pihaknya terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri, termasuk melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam ekosistem pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya menekankan penguasaan teknologi, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan AI secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Selain melalui pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis praktik dan pendekatan multidisipliner juga diterapkan agar mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan akademik dengan penerapannya di dunia profesional.

Upaya ini turut diperkuat melalui ekosistem multi-helix, wadah kolaborasi inovasi berbasis riset melalui Research and Technology Transfer (RTT). Melalui ekosistem ini, pihaknya berupaya mendorong kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membuka ruang bagi pengembangan kompetensi, pertukaran pengetahuan, serta penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. (Winata/balipost)

BAGIKAN