Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng. IPU. (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali selama ini menginternasional karena pariwisata. Namun, bidang pendidikan tinggi, Bali masih kalah dengan daerah lainnya.

Untuk itulah Universitas Udayana (Unud) sebagai kampus tertua dan terbesar di Bali kerja keras meningkatkan mutu akademik dan membangun infrastruktur penunjang pendidikan. Harapannya, selain menginternasionalisasikan Unud juga demi terwujudnya SDM Bali yang unggul.

Rektor Unud, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng. IPU., optimis Unud sebagai universitas yang sangat mumpuni di Bali dan Indonesia, bisa menjadi universitas berkelas Internasioal tanpa tercerabut dari akar budaya Bali. “Jadi walaupun kita mendunia, namun local genius itu tidak boleh hilang sedikitpun. Yakni Ungul Mandiri Berbudaya, dengan pola ilmiah kebudayaan. Tentu local genius kita ini akan menjadi dasar kita,” kata Prof. Gde Antara, Jumat (23/9)
dalam wawancara Bali Post Talk.

Target internasionalisasi ini, kata dia, tentunya demi tujuan yang lebih besar yakni, menjadikan Bali sebagai pulau pendidikan melalui Unud. Harapan ke depan, Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi pariwista dunia, namun juga bisa dikenal dengan pendidikannya.

Baca juga:  Antisipasi Narkoba, Empat Kafe Dirazia

Modalnya sudah ada, yakni saat ini Unud memiliki mahasiswa asing paling banyak di Indonesia. Saat ini akreditasi Unud sudah naik dari A menjadi Unggul. Kemudian akreditasi internasional saat ini sedang digagas, ada beberapa program internasionalisasi bidang akademik yakni UNISERF (Udayana University International Senior Researcher Fellowship). Program ini sudah di-launching dan mulai tahun depan bisa menerima paling tidak 10 peneliti dunia dari luar Indonesia, yang akan melakukan penelitian di Unud.

Dalam program ini diharapkan akan ada kolaborasi, dengan harapan nanti mereka mempublikasikan karya ilmiahnya atas nama Unud. Ini merupakan terobosan program untuk pertama kali yang digagas Unud di bawah kepemimpinan Rektor Gde Antara.

Untuk mewujudkan Universitas Udayana sebagai perguruan tinggi kelas internasional juga dilakukan melalui program Udayana University International Advisory Board (IAB) atau Dewan Penasihat Internasional. Dewan ini terdiri dari 10 profesor kelas dunia, yang tersebar dari universitas terkemuka di dunia, yakni dari Amerika, Jepang, Australia, Jerman dan Prancis.

Baca juga:  Kesulitan Biaya Operasi, Balita Ini Tiap Hari Berjuang Menahan Rasa Sakit

Menurut Antara, mereka inilah yang memberikan masukan bagaimana membawa Unud ke kancah
Internasional. Mereka nantinya akan memberikan nasehat dan panduan, bagaimana Unud harus melangkah untuk menjadi world class university.

Terkait akreditasi, dari 118 program studi yang ada di Universitas Udayana, itu yang sekarang terakreditasi sangat baik, unggul, dan A, persentasenya sudah meningkat menjadi 65% dari 118 prodi. Sementara, yang 35% lagi itu adalah status akreditasi program studi dengan predikat baik.

Untuk prodi sangat baik, unggul dan seterusnya, akan digadang-gadang menjadi akreditasi internasional. Dari sisi SDM, sekarang jumlah guru besar dari dosen Unud yang ada sudah meningkat menjadi 13%. Persentase ini kata dia, sudah di atas ambang batas Kementerian yang dipersyaratkan yakni 10%.

Baca juga:  Unud Kukuhkan 4 Guru Besar Tetap, Ini Mereka

Nantinya, untuk lektor kepala yang sebagai bahan baku menjadi guru besar itu persentase juga terus ditingkatkan dan akan didorong segera menjadi guru besar. Terkait infrastruktur, tahun ini, ada 22 program konstruksi yang telah berjalan, baik untuk infrastruktur yang kecil sampai yang besar, dengan target paling lambat 28 Desember tahun 2022.

Selain pembangunan 8 dekanat, ada juga Rumah Sakit Universiitas Udayana untuk penambahan kamar VVIP, kemudian Rumah Sakit Gigi dan Mulut itu sudah akan selesai di Desember. Untuk pembangunan ruang kuliah, menurutnya sangat penting, karena nantinya untuk mahasiswa S0-S1, per semester akan datang atau mulai Januari 2023, kuliahnya semua di kampus Bukit Jimbaran.

Tentu itu memerlukan infrastruktur yang memadai, sehingga semua perkuliahan bisa migrasi ke kampus bukit jimbaran. Hal ini penting sekali untuk sentralisasi. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN