proyek rehabilitasi irigasi oleh BWS Bali-Penida pada 2025 lalu di Daerah Irigasi (DI) Tampuagan. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Petani di kawasan Subak Tampuagan, Kabupaten Bangli sangat merasakan manfaat dari proyek rehabilitasi irigasi oleh BWS Bali-Penida pada 2025 lalu di Daerah Irigasi (DI) Tampuagan. Aliran air yang kini lancar telah meningkatkan luas areal tanam serta mendongkrak produktivitas pertanian setempat.

Kelian Subak Puleai, I Ketut Sirka, mengungkapkan bahwa sebelum adanya perbaikan irigasi dari pemerintah pusat tersebut, para petani kerap menghadapi kendala kekurangan air hingga harus berjaga sepanjang malam demi mengairi lahan. “Sekarang air sudah mengalir lancar. Kalau dulu luas lahan sawah yang dapat teraliri sekitar 20 hektar, sekarang sudah mencapai 40 hektar,” ujar Sirka, Selasa (3/11).

Ia menambahkan, petani di subaknya bahkan telah memanen hasil dari lahan yang terairi dengan baik pada September lalu, dan kini telah memasuki musim tanam baru sejak November dengan usia padi mencapai dua bulan. “Kalau dulu 2 tahun sekali baru dapat giliran tanam, sekarang 1 tahun sudah dapat,” ujarnya.

Baca juga:  Penanganan Keretakan Tebing Tanah Lot, BWS Bali Penida Mulai Ukur dan Pasang Patok

Terkait adanya informasi simpang siur di luar mengenai proyek rehabilitasi di DI Tampuagan, Sirka memastikan hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. “Saya sudah melihat proyeknya sudah berhasil, air sudah mengalir, sudah dapat mengairi sawah dengan lancar,” jelasnya.

Senada dengan I Ketut Sirka, Kelian Subak Payuk, Nyoman Mandiaka, menyampaikan apresiasi atas kelancaran pasokan air berkat proyek rehabilitasi irigasi ini. Pihaknya mewakili para petani kecil berharap program bantuan infrastruktur dapat terus berlanjut dan menjangkau titik-titik lain yang belum tersentuh pada pengerjaan sebelumnya.

Baca juga:  Nihil Penanganan, Pendangkalan di Tukad Unda Terus Terjadi

“Petani merasa puas. Mudah-mudahan berkelanjutan bantuan dari pusat, provinsi, maupun kabupaten, untuk petani semuanya mengharapkan biar produksinya itu lebih meningkat,” ungkap Mandiaka didampingi Kelian Subak Tabunan Made Suweca dan Kelian Subak Candi Sang Nyoman Giri Jaya.

(BP/Istimewa)

Sementara itu, Ida Bagus Nyoman Adnyana dari Dinas PUPRPerkim Kabupaten Bangli mengatakan bahwa petani dari empat subak di wilayah Subak Tampuagan telah merasakan langsung dampak positif dari kegiatan rehabilitasi irigasi.

Menurutnya, peningkatan masa tanam yang sebelumnya dua tahun sekali kini menjadi setahun sekali sejalan dengan arahan pemerintah pusat untuk mendongkrak swasembada pangan. “Harapannya ke depan, para petani bahkan bisa tanam dua kali dalam setahun,” ujarnya.

Baca juga:  Petani Jamur Tiram Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

Terkait pelaksanaan proyek rehabilitasi irigasi di lapangan, pihak Dinas PUPRPerkim Bangli memastikan bahwa koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) selama ini berjalan baik dan tidak ada kendala berarti.

Menanggapi pemberitaan simpang siur yang sempat beredar terkait proyek rehabilitasi DI Tampuagan yang menelan anggaran Rp 134 miliar, Ida Bagus Nyoman Adnyana meluruskan bahwa nilai anggaran yang sempat disorot dalam pemberitaan itu sebenarnya merupakan alokasi total untuk seluruh wilayah Bali, bukan hanya untuk DI Tampuagan. Ia mengimbau agar pihak-pihak terkait senantiasa melakukan klarifikasi terlebih dahulu guna menghindari kesalahpahaman informasi di tengah masyarakat. (Adv/balipost)

BAGIKAN