Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (27/10) bergerak melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.156 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.135 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya konversi simpanan masyarakat dari rupiah ke valuta asing (valas) di sektor perbankan.

“Rupiah hari ini melemah, dipengaruhi oleh domestik tekanan di pasar saham dan obligasi, dan peningkatan konversi simpanan ke valas di perbankan,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Kenaikan simpanan valas yang mencapai 20 persen, kata dia, mengindikasikan kuatnya preferensi masyarakat untuk memegang dolar AS sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi berlanjutnya pelemahan rupiah, yang pada akhirnya berisiko memicu kelangkaan likuiditas dolar AS di pasar domestik.

Baca juga:  Lifter Banat Rebut Perunggu

Selain itu, sentimen lain berasal dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi hingga menembus kisaran level 5.300, sementara di pasar obligasi terjadi fenomena inversi kurva imbal hasil, yakni ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor acuan 10 tahun tercatat lebih rendah dibandingkan tenor 8 hingga 9 tahun.

Kendati begitu, pelemahan rupiah berpotensi tertahan sejumlah faktor eksternal pasar global. Mulai dari penurunan harga minyak, melandainya imbal hasil obligasi pemerintah AS sebesar 1,8 basis poin ke level 4,97 persen, serta meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Mengutip Anadolu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 1,51 dolar, atau 1,46 persen, menjadi ditutup pada harga 101,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Begitu pula dengan minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember yang turun 91 sen, atau 0,78 persen, menjadi ditutup pada harga 115,81 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Baca juga:  Tabanan, Daerah Potensi Bencana Tertinggi di Bali

Terkait The Fed, bank sentral AS tersebut kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan kebijakan moneter pekan ini, tetapi inflasi yang terus meningkat membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka.

Meskipun inflasi tinggi, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan panduan kebijakan (forward guidance) yang jelas dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia baru-baru ini di Bangkok, Thailand.

Baca juga:  Dijadikan Momen Mengenalkan Adat Bali

Pernyataan tersebut, ditambah dengan komentar hati-hati dari Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Michelle Bowman, memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menunggu data lebih lanjut sebelum mengambil tindakan.

Menurut CME Group, terdapat probabilitas 90 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil minggu ini, sementara 10 persen pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.139 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.116 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN