Piodalan di Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio yang disemarakkan dengan pementasan barongsai. (BP/istimewa)

​GIANYAR, BALIPOST.com – Wujud nyata akulturasi budaya serta keharmonisan antara tradisi Tionghoa dan Hindu Bali kembali terpancar dalam pelaksanaan piodalan di Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio Gianyar, Sabtu (24/10). Perayaan yang berlangsung khidmat sekaligus meriah ini diwarnai dengan perpaduan tradisi ritual hingga pentas seni budaya, termasuk pertunjukan belasan barongsai.

​Sejarah keberadaan Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio di Jalan Dipta No. 14A Gianyar ini diketahui telah membentang sejak ratusan tahun silam. Berdasarkan cerita turun-temurun, tempat suci ini berkaitan erat dengan perjalanan suci Ida Batara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur menuju Pantai Masceti, Blahbatuh.

Baca juga:  Umat Diminta Tak Tangkil Piodalan di Pura Puri Agung Dalem Tarukan

Konon, ketika rombongan singgah, hujan secara unik hanya turun di area pesinggahan tersebut, hingga dibangunlah penanda (turus lumbung) yang seiring berjalannya waktu berkembang menjadi pura dan konco seperti saat ini. ​Eratnya kaitan mitologis dengan Ratu Subandar di Pura Ulun Danu Batur serta sejarah warga keturunan Tionghoa yang bermukim dan berprofesi sebagai pedagang di dekat Puri Gianyar menjadikan tempat ibadah ini sebagai simbol keharmonisan sosial dan ekonomi lintas generasi.

​Pada pelaksanaan piodalan tahun ini yang jatuh pada tanggal 15 bulan 9 Imlek atau Purnamaning Kalima, perpaduan tradisi terasa sangat kental. Ritual Konghucu yang identik dengan dupa dan lilin berjalan beriringan dengan persembahan sarana banten khas piodalan Hindu Bali.

Baca juga:  Ratusan Krama Sembahyang di Puncak Piodalan Pura Puri Agung Dalem Tarukan

​Saat puncak piodalan, panggung ritual dihiasi kolaborasi tarian sakral Hindu seperti Rejang Dewa, Baris Gede, Rejang Renteng, Rejang Sari, hingga Topeng Sidakarya yang dibawakan bersama oleh pemaksan konco dan warga Lingkungan Sangging. Di konco ini, umat memuja beberapa dewa utama, di antaranya Dewa Cong Poo Kong (Dewa Perdagangan), Dewa Kwan Kong (Dewa Keadilan), Dewa Tan Hu Sin Jin (Dewa Arsitek), dan Dewa Cai Sen Ya (Dewa Uang).

​Ketua Pemaksan Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio, Nyoman Aryawan menyampaikan bahwa saat ini jumlah pemaksan tercatat sekitar 120 KK yang mayoritas berdomisili di Kecamatan Gianyar.

Baca juga:  Rangkaian Piodalan Pura Samuan Tiga Ditiadakan

​”Banyak juga umat dari luar Gianyar yang datang untuk bersembahyang selama piodalan berlangsung. Tempat ibadah ini bukan hanya milik umat Konghucu, tetapi terbuka bagi seluruh masyarakat yang memiliki keyakinan untuk melakukan persembahyangan di sini,” ujar Aryawan.

​Rangkaian piodalan yang berlangsung selama empat hari ini turut disemarakkan dengan pagelaran seni budaya saban malam. Selain tari-tarian Bali seperti Tari Manukrawa dari siswa SDN 3 Gianyar dan Tari Puspanjali dari warga pemaksan, atraksi barongsai menjadi salah satu daya tarik utama masyarakat. ​”Untuk barongsai, kami menampilkan belasan kelompok barongsai dari berbagai perkumpulan yang ada di Denpasar, Gianyar, hingga Klungkung,” pungkas Aryawan. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN