
DENPASAR, BALIPOST.com – Serangan memiliki tipe lahan yang kering karena lokasinya yang dekat dengan pesisir. Guna menghijaukan kawasan ini, warga diberdayakan merawat puluhan ribu bibit tanaman dari 83 spesies di rumah pembibitan (nursery) yang dikelola KEK Kura Kura Bali.
Menurut salah satu pekerja di Nursery Kura Kura Bali, Astini, sebanyak 25.941 tanaman dari 83 spesies saat ini dirawat dan dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan lanskap kawasan. Ia bersama warga Serangan lainnya, Dayu, mengaku bekerja mulai pagi hari, sekitar pukul 08.00 WITA, untuk merawat tanaman.
“Kami mulai bekerja dari jam 8 pagi. Kegiatannya mulai dari pembibitan sampai perawatan tanaman, semuanya dilakukan di sini,” tutur mereka.
Terkait keberadaan nursery ini, Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy, mengatakan keterlibatan warga lokal mencapai 64 persen. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan kerja dan melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan kawasan, termasuk dalam kegiatan perawatan tanaman dan lanskap.
Ia mengungkapkan peran rumah pembibitan semakin penting seiring dengan bertambahnya luasan lanskap di Kura Kura Bali. Pada 2026, area lanskap kawasan telah mencapai sekitar 240.379 m², meningkat hampir dua kali lipat sejak 2023.
Hingga tahun ini, tercatat ada sekitar 737.441 tanaman pohon dan perdu di dalam kawasan,
jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan di tahun 2023 yang hanya 177.000 tanaman.
Dari 83 spesies yang tersedia, tanaman perdu memiliki porsi yang cukup besar karena banyak digunakan untuk mendukung struktur vegetasi, penutup area, serta elemen estetika lanskap.
Beberapa jenis dengan jumlah populasi yang signifikan antara lain Kenyeri (Nerium oleander) sebanyak 2.764 tanaman, Selada Laut (Scaevola taccada) sebanyak 2.475 tanaman, dan Cendrawasih (Phyllanthus myrtifolius) sebanyak 3.889 tanaman.
Sementara itu, koleksi pohon dipersiapkan untuk mendukung pembentukan kanopi dan struktur vegetasi jangka panjang di kawasan. Keragaman jenis tanaman juga menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan lanskap, dengan mempertimbangkan fungsi ekologis, karakter lanskap, kebutuhan area, serta kesesuaian tanaman.
Selain beberapa jenis tanaman yang sudah disebutkan, dibudidayakan juga berbagai jenis tanaman yang telah dikenal sebagai bagian dari vegetasi Bali dan kawasan pesisir tropis, antara lain selada laut (Scaevola taccada), widuri (Calotropis gigantea), jepun (Plumeria pudica), jempiring (Gardenia jasminoides), dan andong (Cordyline fruticosa).
Sementara itu, keberadaan nursery juga terhubung dengan area pengelolaan sampah organik, Island Compost Center (ICC) di Fish Bone Park. Kompos yang dihasilkan dari fasilitas ini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari pengelolaan media dan pemeliharaan tanaman.
Dengan demikian, pengelolaan nursery menjadi bagian dari siklus yang lebih luas, yakni sampah organik diolah menjadi kompos, kompos dimanfaatkan untuk mendukung tanaman, dan tanaman kembali menjadi bagian dari lanskap kawasan.
“Pengembangan lanskap kami jalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Nursery ini menjadi simbol bagaimana pertumbuhan kawasan dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan manfaat bagi komunitas sekitar,” kata Zefri. (Ketut Winata/balipost)










