
DENPASAR, BALIPOST.com – Industri telekomunikasi di Indonesia memilih untuk mengoptimalkan jaringan teknologi 5G, dibandingkan beralih ke 6G. Hal ini mengemuka saat tiga pelaku industri telekomunikasi berbicara dalam panel diskusi “Indonesia’s Next Network” serangkaian Bali Tech Week yang dibuka Senin (19/10) di Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar.
Menurut salah satu pembicara, Nugroho, yang merupakan Direktur Utama, Telkomsel, perkembangan teknologi telekomunikasi bergerak sangat cepat. Ketika pembicaraan mengenai teknologi 6G mulai mengemuka dan sejumlah negara telah mengadopsinya, ia menegaskan pentingnya sikap realistis dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan dalam menyikapi transisi teknologi masa depan.
Nugroho tidak menampik bahwa 6G adalah masa depan industri telekomunikasi. Namun, sebelum teknologi tersebut siap diimplementasikan secara global, industri harus fokus memaksimalkan potensi teknologi yang ada saat ini, yaitu 5G.
“Tentu saja masa depan adalah 6G. Namun hari ini, hingga 6G siap, kita harus berhadapan dengan fakta bahwa fokus utama adalah memberikan pengalaman pelanggan (customer experience) yang lebih baik dan relevan dengan kebutuhan mereka,” ujar Nugroho.
Guna menjawab berbagai kendala jaringan yang dihadapi pengguna, ia menguraikan pemanfaatan spektrum frekuensi baru, khususnya di pita 2.600 MHz dan 700 MHz yang belum lama ini diperoleh Telkomsel.
Menurut Nugroho, kedua spektrum ini memiliki peran yang saling melengkapi.
Frekuensi 2.600 MHz, lanjutnya, sangat ideal untuk menangani kepadatan lalu lintas data di area padat penduduk atau saat ajang besar. Sedangkan frekuensi 700 MHz sangat efektif untuk penetrasi sinyal ke dalam ruangan serta perluasan jangkauan.
Nugroho memberikan contoh saat masyarakat menghadiri acara besar seperti pertandingan sepak bola atau konser musik di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Pada situasi tersebut, jaringan sering kali mengalami kegagalan akibat lonjakan trafik (overcrowded).
“Dahulu, di keramaian seperti itu hampir tidak mungkin melakukan komunikasi karena jaringan down akibat terbatasnya kapasitas. Dengan tambahan spektrum 2.600 MHz dan penggelaran 5G, termasuk 5G Standalone/SA, masalah tersebut dapat teratasi karena efisiensi spektrum dan efisiensi biaya per gigabyte yang jauh lebih baik,” jelasnya.
Selain itu, spektrum 700 MHz menjadi jawaban atas keluhan pelanggan di kawasan pemukiman atau daerah urban seperti Kebayoran dan Senopati. Sinyal frekuensi tinggi (seperti 900 MHz ke atas) kerap terhalang dinding bangunan. Penggunaan frekuensi rendah ini juga memungkinkan efisiensi investasi saat menggelar jaringan di wilayah terluar atau belum terjangkau.
Ekspansi Jaringan 5G
Dalam kesempatan tersebut, Nugroho juga membeberkan pertimbangan finansial dan teknis di balik ekspansi jaringan 5G. Menurutnya, penggelaran jaringan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru tanpa memperhitungkan Return on Investment (ROI) dan kesiapan ekosistem.
Pihaknya menetapkan kriteria ketat sebelum menggelar jaringan 5G di suatu wilayah. Salah satu indikator utamanya adalah penetrasi perangkat pendukung.
“Kami harus memastikan bahwa di daerah tersebut terdapat jumlah perangkat 5G yang memadai, ambang batasnya (threshold) sekitar 20 persen. Jika ambang batas minimum itu tercapai, baru kami melanjutkan ekspansi 5G. Menggelar 5G di area tanpa penetrasi perangkat yang cukup hanya akan membuang kapasitas,” tegas Nugroho.
Berdasarkan analisis tersebut, pihaknya telah mengidentifikasi sekitar 107 kota di Indonesia yang dinilai siap dan layak secara bisnis untuk penggelaran jaringan 5G secara agresif.
Nugroho menambahkan bahwa kebutuhan pengguna saat ini telah mengalami pergeseran mendasar. Jika dahulu fokus utama pengguna adalah kecepatan unduh (downlink throughput), kini kecepatan unggah (uplink throughput) menjadi sangat krusial.
Perubahan ini dipicu oleh tingginya aktivitas seperti video call, siaran langsung (live streaming), hingga pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) serta Augmented Reality (AR).
“Pengalaman AI tidak akan maksimal tanpa jaringan 5G. Perilaku pelanggan telah bergeser ke arah uplink. Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi secara optimal tanpa teknologi 5G,” kata Nugroho.
Senada disampaikan Direktur XL Smart Merza Fachys. Ia menegaskan fokus utama Indonesia saat ini adalah mempercepat penyelesaian dan optimalisasi infrastruktur jaringan yang ada, terutama 5G dan ekosistem pendukungnya.
Menurut Merza, meski Indonesia tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga dalam penggelaran 5G, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk melambat. Sebaliknya, Indonesia harus bergerak lebih cepat untuk mendukung transformasi digital dan pemanfaatan AI.
“Layanan kita bukan hanya untuk pengguna ponsel pintar, tetapi juga mendukung AI, pusat data (data center), dan seluruh transformasi digital di Indonesia. Soal 6G, tentu akan datang dan menjadi tantangan tersendiri, tetapi untuk sementara kita bisa ‘sampingkan’ dulu. Mari kita selesaikan apa yang masih kurang dari infrastruktur saat ini,” tegas Merza.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan adalah konektivitas antarwilayah. Merza menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas jaringan untuk menghubungkan ribuan pulau di Indonesia.
Investasi Jaringan Kabel Bawah Laut
Guna mencapai hal tersebut, investasi pada jaringan kabel bawah laut menjadi krusial namun tidak mudah dilaksanakan sendiri.
“Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, dan kita perlu berinvestasi pada kabel bawah laut. Ini adalah pekerjaan besar yang tidak mudah. Oleh karena itu, kita harus berkolaborasi dan dikomandoi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital agar pembangunan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi,” jelasnya.
Mengenai kesiapan teknologi, pihak ga telah mengantisipasi pemanfaatan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz sejak proses rekayasa jaringan pasca-merger. Ia mengatakan pihaknya mengaktifkan jaringan pada spektrum baru tersebut untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan pengalaman pengguna.
Namun, Merza mengungkapkan adanya tantangan pada kesiapan ekosistem perangkat. Meskipun terdapat lebih dari 30 juta ponsel pintar berteknologi 5G yang beredar di pasar Indonesia, sebagian besar belum dapat memanfaatkan spektrum 700 MHz dan 2.600 MHz secara langsung.
“Ponsel 5G yang sudah ada di lapangan belum bisa langsung mengakses frekuensi 700 MHz dan 2.600 MHz karena harus melalui proses re-sertifikasi atau pembaruan perangkat lunak oleh produsen. Kami berharap proses ini tidak memakan waktu lama agar masyarakat yang sudah memiliki perangkat 5G dapat segera merasakan peningkatan kualitas jaringan yang signifikan,” ungkap Merza.
Dengan dibukanya akses frekuensi baru dan penyelesaian infrastruktur secara menyeluruh, ia optimis dapat mendorong peningkatan kualitas pengalaman digital di Indonesia.
Merza meyakini bahwa langkah-langkah strategis ini tidak hanya akan memberikan pengalaman internet yang lebih cepat dan stabil bagi pengguna harian maupun sektor industri, tetapi juga memicu peningkatan posisi ranking kualitas internet Indonesia di tingkat internasional.
Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Desmond Cheung mengatakan transformasi digital Indonesia tengah memasuki babak baru yang krusial. Ia menegaskan komitmen untuk mempercepat pemerataan konektivitas berkualitas tinggi di seluruh Indonesia melalui penggelaran teknologi 5G yang dipadukan dengan AI serta efisiensi biaya perangkat.
Desmond menyampaikan bahwa alokasi spektrum frekuensi 700 MHz menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan layanan. Menurut perhitungan teknis, frekuensi rendah ini mampu memberikan peningkatan cakupan hingga 40 persen lebih luas dibandingkan frekuensi menengah dan tinggi.
“Frekuensi 700 MHz sangat krusial bagi kami untuk menjangkau area-area yang lebih luas dan terpencil. Selain itu, sebagai negara kepulauan, kami juga terus membangun lebih banyak jaringan kabel bawah laut untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Tanpa infrastruktur ini, konektivitas yang merata tidak akan terwujud,” ujar Desmond.
Desmond mengatakan lompatan menuju 5G Standalone (SA) tak hanya meningkatkan kecepatan data, namun membuka jalan bagi implementasi fitur Reduced Capability. Fitur ini memungkinkan perangkat IoT (Internet of Things) dan perangkat terkoneksi lainnya beroperasi dengan konsumsi daya lebih rendah serta komponen hardware yang lebih efisien. Dampaknya, biaya produksi perangkat dapat ditekan secara signifikan.
“Dengan 5G SA dan teknologi RedCap, harga perangkat terkoneksi, baik untuk IoT maupun perangkat masyarakat, akan menjadi jauh lebih murah dan terjangkau. Hal ini akan memberdayakan masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan kapabilitas baru dari kombinasi 5G dan AI secara lebih luas,” jelas Desmond.
Meskipun penggelaran 5G di Indonesia dinilai relatif tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga, Desmond memandangnya sebagai peluang untuk membangun ekosistem yang lebih solid sejak awal, terutama dengan mengintegrasikan 5G bersama teknologi AI.
Integrasi antara konektivitas berkecepatan tinggi dan pemrosesan AI dinilai akan menjadi pendorong utama ekonomi digital Indonesia, mulai dari sektor industri pintar hingga pelayanan publik.
“Kami bekerja sangat keras untuk menghadirkan sinergi antara 5G dan AI secara bersamaan. Kombinasi inilah yang akan benar-benar memberdayakan masyarakat dan industri di Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Desmond juga menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan regulasi dan kebijakan dari pemerintah, khususnya Kemenkomdigi. Dukungan lisensi dan kebijakan spektrum dinilai sangat membantu para operator seluler dalam mempercepat menggelar jaringan. (Diah Dewi/balipost)










