Aiptu Gede Surik Siawan, pencipta inovasi digital Dora. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Berangkat dari keprihatinan terhadap masih sulitnya masyarakat memperoleh donor darah dalam kondisi darurat, seorang putra daerah Buleleng menciptakan inovasi digital bernama Dora (Donor Darah Darurat). Aplikasi berbasis web tersebut hadir sebagai jembatan yang mempertemukan masyarakat yang membutuhkan darah dengan komunitas relawan donor secara lebih cepat.

Pendiri Dora, Aiptu Gede Surik Siawan, Minggu (4/7), mengatakan, aplikasi tersebut lahir dari pengalamannya saat melihat keluarga pasien harus berjuang mencari pendonor karena stok darah kosong maupun untuk memenuhi kebutuhan donor pengganti. Selama ini, permohonan donor darah masih banyak beredar melalui media sosial maupun grup percakapan, namun proses pencarian sering memerlukan waktu yang tidak singkat.

“Permasalahan kebutuhan darah, terutama untuk kondisi darurat, masih sering terjadi. Baik karena stok darah habis maupun kebutuhan donor pengganti. Dari situ muncul gagasan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan mereka yang membutuhkan dengan orang-orang yang ingin membantu,” ujarnya.

Baca juga:  Anjung Pandang Ki Barak Panji Sakti

Seluruh proses donor darah tetap dilaksanakan sesuai prosedur medis melalui Unit Transfusi Darah PMI Kabupaten Buleleng. Sementara itu, Dora hanya berfungsi sebagai penghubung yang membantu mempercepat pencarian relawan donor sesuai kebutuhan.

Saat ini Dora masih memasuki tahap pilot project dan baru beroperasi di Kabupaten Buleleng. Dua komunitas telah bergabung sebagai relawan yakni Polres Buleleng dan komunitas Kita Pasti Bisa. Meski demikian, Surik menegaskan seluruh keterlibatan anggota komunitas bersifat sukarela karena tidak semua orang memenuhi persyaratan kesehatan untuk mendonorkan darah.

“Kami membangun gerakan sosial yang murni sukarela. Tidak semua anggota komunitas menjadi pendonor karena donor darah memiliki persyaratan kesehatan dan juga membutuhkan kesiapan masing-masing,” katanya.

Surik mengakui, salah satu pengalaman yang paling membekas selama mengembangkan Dora terjadi saat menerima permohonan donor darah dari keluarga pasien asal luar Kabupaten Buleleng yang sedang menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. IGNG Ngoerah, Denpasar. Permohonan tersebut belum dapat dipenuhi karena jaringan relawan Dora hingga kini masih terbatas di wilayah Buleleng.

Baca juga:  Gojek Perkuat Komitmen Keamanan Pelanggan dan Mitranya

“Kami sangat ingin membantu, tetapi jaringan relawan kami saat ini memang masih sangat terbatas dan baru ada di Kabupaten Buleleng. Pengalaman itu menjadi motivasi agar suatu saat Dora dapat menjangkau kabupaten lain sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa terbantu,” ungkapnya.

Dora mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada akhir Desember 2025. Hingga awal Juli 2026, aplikasi tersebut telah menerima 61 permohonan donor darah. Dari jumlah itu, sebanyak 40 kantong darah berhasil dipenuhi atau sekitar 65,6 persen, sedangkan 21 permohonan lainnya belum dapat dipenuhi karena keterbatasan jumlah relawan maupun faktor kecocokan donor.

Baca juga:  Rekor Kasus Meninggal Harian di Bali Pecah Lagi!! Ini Riwayat Penyakitnya

Menurut Surik, data tersebut menunjukkan kebutuhan donor darah darurat di masyarakat masih cukup tinggi. Di sisi lain, kondisi itu juga menjadi tantangan untuk terus memperluas jaringan relawan agar semakin banyak permohonan yang dapat dipenuhi.

Ia menilai keberhasilan program kemanusiaan seperti Dora tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Peran sumber daya manusia, terutama relawan donor darah, justru menjadi faktor paling penting.

“Kalau saya boleh menilai, teknologi mungkin hanya berkontribusi sekitar 25 persen. Sisanya sekitar 75 persen sangat bergantung pada sumber daya manusianya, baik tim pengelola maupun para relawan donor darah. Mereka adalah pahlawan yang sesungguhnya karena yang mereka sumbangkan bukan hanya darah, tetapi juga waktu, tenaga, bahkan biaya transportasi untuk datang mendonor. Semua dilakukan dengan tulus dan sukarela,” tuturnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN