
SINGASANA, BALIPOST.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mulai membayangi layanan penjemputan dan pengantaran jenazah di RSUD Tabanan dan RSUD Singasana. Salah satu dari dua unit ambulans jenazah di RSUD Tabanan dilaporkan kehabisan bahan bakar, sementara pasokan Pertamax yang selama ini digunakan juga mengalami kekosongan.
Meski demikian, pelayanan ambulans untuk pasien di kedua rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut masih berjalan normal karena menggunakan bahan bakar jenis biosolar.
Direktur RSUD Singasana yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Tabanan, dr. I Wayan Doddy Setiawan, mengatakan pihaknya kini berupaya mencari solusi agar pelayanan ambulans jenazah tetap bisa berjalan di tengah keterbatasan BBM.
“Untuk sementara, kami sedang mengupayakan agar pelayanan penjemputan dan pengantaran jenazah tidak sampai terhenti. Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari alternatif apabila Pertamax belum tersedia,” ujarnya, Kamis (15/10)
Menurut Doddy, RSUD Tabanan memiliki dua unit ambulans jenazah. Namun, salah satu kendaraan tersebut sudah tidak dapat dioperasikan karena kehabisan bahan bakar.
Selama ini, pengisian BBM dilakukan melalui kerja sama dengan SPBU Abiantuwung. Akan tetapi, ketersediaan Pertamax yang menjadi bahan bakar operasional ambulans jenazah turut terdampak kelangkaan.
Pihak rumah sakit pun berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan untuk membahas kemungkinan penggunaan Pertalite sebagai alternatif. Pasalnya, selama ini operasional ambulans jenazah menggunakan Pertamax sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami perlu memastikan terlebih dahulu apakah penggunaan jenis BBM lain dimungkinkan. Jika belum ada pasokan, kami akan mencari solusi bersama Dinas Kesehatan agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan,” katanya.
Selain mengupayakan alternatif bahan bakar, pihak rumah sakit juga menyiapkan koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan lain yang memiliki ambulans jenazah. Langkah ini menjadi opsi apabila kendaraan yang tersedia tidak dapat beroperasi akibat kehabisan BBM.
Di sisi lain, Doddy memastikan layanan ambulans pasien di RSUD Tabanan maupun RSUD Singasana masih aman. Masing-masing rumah sakit memiliki dua unit ambulans pasien yang menggunakan biosolar.
“Untuk ambulans pasien, sampai saat ini masih beroperasi normal. Ketersediaan biosolar juga masih mencukupi dan pengisiannya mendapat prioritas sehingga kendaraan tidak perlu mengikuti antrean seperti masyarakat umum,” jelasnya.
Dampak kelangkaan BBM juga dirasakan sejumlah tenaga nonmedis di kedua rumah sakit. Beberapa pegawai meminta izin datang terlambat karena kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan pribadi.
Manajemen rumah sakit, kata Doddy, memahami kondisi tersebut. Meski demikian, pelayanan kesehatan tetap menjadi prioritas dan seluruh aktivitas rumah sakit berlangsung seperti biasa.
“Kami memahami kendala yang dialami pegawai karena situasinya memang tidak mudah. Namun, pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan dan sejauh ini belum ada gangguan berarti,” ungkapnya.
Terkait kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) yang tertuang dalam edaran Pemerintah Provinsi Bali, Doddy menegaskan kedua rumah sakit tidak menerapkannya.
Menurut dia, pelayanan rumah sakit membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan dan petugas pendukung secara langsung. Karena itu, aktivitas kerja tetap dilaksanakan seperti biasa dengan menyesuaikan kebutuhan pelayanan.
“Operasional rumah sakit tetap berjalan normal. Kami tidak menerapkan WFH karena pelayanan kepada pasien harus tetap terjaga,” tegasnya.(Puspawati/balipost)










