
MANGUPURA, BALIPOST.com – Penanggulangan bencana tidak cukup dilakukan saat bencana terjadi. Kesiapsiagaan, edukasi, penguatan kapasitas masyarakat, dan mitigasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko serta melindungi keselamatan masyarakat. Komitmen inilah yang diperkuat Pramuka Peduli Kwartir Daerah (Kwarda) Bali dalam rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Bali Tahun 2026.
Pramuka Peduli Kwarda Bali terlibat dalam dua kegiatan, yakni Sarasehan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali dan aksi penanaman mangrove melalui Gerakan Bali Menanam di Pulau Pudut, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Dalam Sarasehan FPRB Bali, peserta membahas strategi membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat sebelum bencana terjadi. Forum tersebut dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, serta Ketua FPRB Bali Putu Suta Wijaya.
Sejumlah isu strategis menjadi perhatian, mulai dari penguatan kelembagaan, kebijakan, penganggaran, hingga peningkatan kapasitas dan peran relawan dalam pengurangan risiko bencana.
Pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, komunitas, relawan, dunia pendidikan, dan dunia usaha. Edukasi kebencanaan juga menjadi fondasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman, langkah pencegahan, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.
Upaya pengurangan risiko bencana juga diwujudkan melalui penanaman mangrove di kawasan Pulau Pudut. Aksi ini menjadi bagian dari mitigasi berbasis lingkungan, khususnya dalam menjaga ekosistem pesisir yang berperan penting menghadapi berbagai ancaman lingkungan dan dampak perubahan iklim.
Ketua Pramuka Peduli Kwarda Bali sekaligus Sekretaris II FPRB Bali, Gede Wirawan, menegaskan bahwa Pramuka harus mengambil peran nyata dalam upaya mitigasi bencana. “Pramuka Peduli Kwarda Bali secara aktif melakukan aksi nyata penanaman pohon, termasuk mangrove di berbagai wilayah pesisir. Ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan,” ungkap Gede Wirawan saat ditemui, Jumat (9/10).
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pengamalan Dasa Darma Pramuka kedua, yakni Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. “Cinta alam tidak cukup hanya menjadi slogan. Cinta alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika kita menanam dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan dan mengurangi risiko bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, jaringan Pramuka hingga tingkat gugus depan dan masyarakat menjadi potensi besar untuk memperluas edukasi kebencanaan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam mitigasi. “Dari edukasi, kemudian bergerak bersama dan melakukan aksi. Inilah semangat Pramuka Peduli. Kita ingin anggota Pramuka tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menguranginya,” katanya.
Melalui rangkaian Bulan PRB Bali 2026, Pramuka Peduli Kwarda Bali mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor agar upaya penanggulangan bencana berjalan berkelanjutan. “Mulai dari meningkatkan kesiapsiagaan hingga melakukan mitigasi lingkungan, setiap langkah diharapkan mampu menekan risiko dan membangun masyarakat Bali yang lebih tangguh menghadapi bencana,” tegasnya. (Parwata/balipost)










