Tangkapan layar monyet berkeliaran di SDN 2 Wanagiri. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Keberadaan monyet ekor panjang (MEP) di sekitar permukiman dan fasilitas umum di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Buleleng, mendapat perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. Hasil pemantauan petugas menemukan sekitar 35 individu monyet ekor panjang berada di sekitar SD Negeri 2 Wanagiri.

Temuan tersebut diketahui setelah terjadinya konflik satwa liar yang menyebabkan seorang siswa sekolah dasar menjadi korban gigitan monyet. BKSDA Bali menyebut keberadaan monyet di kawasan tersebut bukan kejadian baru. Konflik manusia dengan satwa liar itu tercatat berulang dalam kurun 2023 hingga 2026.

Baca juga:  Awig-awig Pelestarian Hutan Desa di Wanagiri Bentuk Jaga Kelestarian Alam

Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko mengatakan, jumlah monyet yang terpantau di lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan. Menurutnya, upaya pengendalian nantinya tetap akan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan habitat dalam menopang populasi satwa. “Ke depan, BKSDA Bali akan melakukan pembinaan habitat dan pengendalian populasi, sesuai daya dukung habitatnya,” ujarnya, Kamis (8/10).

Ia menjelaskan, berdasarkan catatan BKSDA Bali, konflik monyet ekor panjang di Desa Wanagiri telah beberapa kali terjadi sejak 2023. Peristiwa serupa masih muncul hingga 2026, termasuk kejadian di lingkungan SDN 2 Wanagiri pada Rabu (7/10). “Kalau melihat catatan kejadian, konflik monyet ekor panjang di Desa Wanagiri sudah beberapa kali terjadi sejak 2023 hingga 2026,” katanya.

Baca juga:  Polsek Kintamani Tanam Ratusan Cemara di TWA Bukit Payang

Dengan adanya temuan sekitar 35 ekor tersebut, BKSDA Bali akan melakukan penanganan dengan mengedepankan keseimbangan antara keberadaan satwa dan aktivitas masyarakat. Pembinaan habitat menjadi salah satu langkah yang disiapkan, disertai pengendalian populasi apabila diperlukan berdasarkan daya dukung kawasan.

“Kita akan melakukan penanganan dengan mengedepankan keseimbangan antara keberadaan satwa dan aktivitas masyarakat,” imbuhnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN