Prosesi peed dan Nyenuk yang melibatkan ribuan krama serangkaian karya agung di Pura Agung Manukaya Let, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Sabtu (3/10). (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Suasana khidmat dan penuh nuansa spiritual menyelimuti Desa Adat Manukaya Let, Desa Manukaya, Kabupaten Gianyar, Sabtu (3/10). Setelah penantian selama 48 tahun sejak terakhir kali dilaksanakan pada 1978, Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let akhirnya kembali digelar dengan melibatkan ribuan krama dari enam desa adat.

​Rangkaian Karya Agung ini mencakup upacara Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, hingga Mendem Pedagingan. Puncak kemeriahan dan kekhusyukan ritual terasa dalam prosesi peed dan Nyenuk yang melibatkan sekitar 2.000 peserta berjalan kaki mengikuti iring-iringan upacara.

​Bendesa Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian upacara ini merupakan wujud bhakti dan pengabdian umat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon kerahayuan serta keharmonisan alam semesta. Ke depan, karya agung ini direncanakan akan kembali dilaksanakan secara berkala setiap 30 tahun sekali demi menjaga kesinambungan tradisi leluhur.

Baca juga:  Buka Kantor Baru, Alfamart Serahkan Sembako dan Alat Sekolah untuk Warga Tulikup

​Keberhasilan dan kemegahan prosesi ini tidak lepas dari sinergi enam desa adat yang terlibat, yaitu Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul. Keterlibatan masyarakat desa ini menjadi cerminan nyata dari semangat menyama braya dan gotong royong yang masih mengakar kuat di Tampaksiring.

​Semarak prosesi peed kian terasa dengan lantunan irama religius dari sekitar 10 kelompok sekaa gong yang mengiringi sepanjang perjalanan, mulai dari adi mardangga, beleganjur, hingga gong suling.

​Di luar pelaksanaan karya agung, Desa Adat Manukaya Let juga memegang teguh tradisi sakral Tampiog atau Melabuh Geni. Tradisi ini terbilang unik karena para peserta mulai dari pamangku, prajuru, undagi, hingga pemuda sekaa baris melakukan aksi menerjang dan menendang gundukan bara api dalam keadaan sadar tanpa kerauhan (trance).

Baca juga:  Audiensi dengan Forkompinda, Wabup Tabanan Paparkan Kesakralan Karya Agung Pengurip Gumi

Ritual api ini dimaknai sebagai simbol penyucian bhuana alit serta ungkapan rasa syukur. Selain Tampiog, desa adat ini juga merawat seni sakral Tari Bedag-bedagan yang dipentaskan pada hari-hari suci tertentu.

​Pelaksanaan karya agung ini tak hanya menjadi momentum penyucian tempat suci secara sekala dan niskala, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai-nilai budaya dan spiritual Bali bagi generasi muda di tengah arus perubahan zaman.

Tokoh masyarakat asal Desa Manukaya Let yang juga selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menambahkan Pura Tirta Empul memiliki kedudukan penting sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat dan pusat peradaban kebudayaan sejak zaman kerajaan kuno, yang berawal dari masa Sri Kesari Warmadewa.

​”Rangkaian upacara ini menjadi momen krusial untuk membangkitkan dan merawat kembali nilai-nilai tradisi leluhur yang sudah lama tidak direvitalisasi,” ujar Wayan Adi Parbawa.

Baca juga:  Puncak "Pangurip Gumi" Pura Luhur Batukau, Begini Upakara di Masing-masing Rumah

Pemerintah Kabupaten Gianyar mengapresiasi kekompakan gabungan desa pengempon Pura Tirta Empul seperti Manukaya Kelod, Penempaan, Maler, Calo, Timur, Tegal Payang, hingga desa pengabih seperti Bayad, Kedisan, dan sekitarnya.
​Pelaksanaan ritual Nyenuk Ingkel Agung menampilkan beragam kesenian tradisi sakral, seperti Rejang Uni dan Rejang Lemi, ​Baris Gede Uni, Gebogan-gebogan, Demung-demung Tameng, ​Premas-premas Tapakan Ida Bhatara

​Kesenian Ketangoran dan sekaa tradisi lainnya. “Upacara ini melibatkan sekitar 2.000 peserta yang khusus menangani ketangoran dan kesenimanan. Jika ditotal bersama seluruh krama pengempon, jumlahnya mencapai hampir 15.000 orang,” jelasnya.

​Wayan Adi Parbawa berharap keterlibatan masyarakat luas dan generasi muda di Tampaksiring ini dapat memperkuat benteng budaya Bali.

​”Mari kita bersama-sama merawat nilai tradisi ini. Harapannya, generasi muda dapat menjadikan benteng seni dan budaya ini sebagai sarana memitigasi gempuran perkembangan zaman,” pungkasnya. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN