Petugas menunjukan mata uang rupiah (Rp) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (7/9/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (30/9), bergerak menguat 87 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.894 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.981 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menilai pergerakan rupiah dipengaruhi intervensi Bank Indonesia (BI) yang konsisten di pasar valuta asing (valas).

“BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

BI menegaskan intervensi spot di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap dilakukan sesuai dengan dinamika pasar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menerangkan komposisi intervensi spot sekitar 30 persen merupakan komposisi yang bersifat historis dan tidak menjadi target dalam pelaksanaan intervensi.

Baca juga:  Gempabumi Bertepatan Hari Kajeng Kliwon, Sulinggih Sebut Ini Maknanya

Secara historis, seiring dengan upaya BI mendorong perkembangan pasar valas domestik, ia menyebut komposisi penggunaan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF) mulai lebih berimbang. Namun, hal tersebut tidak berarti komitmen BI untuk melakukan intervensi di pasar spot berkurang.

Di samping itu, sentimen global turut mempengaruhi pergerakan rupiah, yakni kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS.

Yield US Treasury 10 tahun disebut berada di sekitar 5,27 persen, sementara dolar AS menguat dan berada dekat level tertinggi tahun ini. Kondisi tersebut dianggap membuat aset berbasis dolar lebih menarik dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang regional, termasuk rupiah.

Baca juga:  Ribuan Mahasiswa Datangi Gedung DPR RI

Di sisi lain, pernyataan Presiden New York Fed John Williams bahwa belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Selain itu, Analis Doo Financial Lukman Leong telah menyampaikan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi harga minyak dunia yang turun cukup besar.

“Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat,” ujar dia.

Mengutip Anadolu, harga minyak turun di tengah tanda-tanda membaiknya pasokan dari Timur Tengah, termasuk kembali berjalannya ekspor minyak Arab Saudi melalui jalur pipa Timur-Barat pasca perbaikan kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.

Baca juga:  Luhut Ancam Lapor Presiden Bila Ada Pejabat Persulit Pengusaha

Peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga turut meredakan kekhawatiran mengenai pasokan dalam waktu dekat.

Tercatat, harga minyak mentah Brent internasional turun 2,8 persen atau sebesar 2,94 dolar AS menjadi 102,35 dolar AS per barel, sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 3,5 dolar AS atau 3,8 persen menjadi 89 dolar AS per barel.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.877 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.998 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN