
BANGLI, BALIPOST.com – Karya Agung Panca Wali Krama yang saat ini digelar di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, merupakan ritual suci yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali. Puncak karya agung ini dijadwalkan berlangsung pada Purnama Kapat, Sabtu, 26 September 2026.
Berdasarkan Raja Purana atau Prakempa Pura Hulundanu Batur, pelaksanaan yadnya ini merupakan titah suci (bhisama) dari Ida Lelangit Hyang Tri Purusha yakni Hyang Gni Jaya (Pura Lempuyang Luhur), Hyang Tohlangkir (Pura Besakih), dan Hyang Dewi Danu (Pura Hulundanu Batur). Karya agung ini diperkirakan menelan biaya sesuai rencana anggaran biaya (RAB) sebesar Rp7,6 miliar serta menggunakan 15 ekor kerbau sebagai sarana kurban suci.
Di balik besarnya upacara ini, sosok I Jro Saba berdiri sebagai ketua pelaksana karya. Mengemban amanah besar tersebut, pria yang juga menjabat sebagai Penyarikan Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Bangli ini mengawal setiap tahapan persiapan dengan prinsip ngayah yang tulus dan penuh tanggung jawab.
“Tentu setelah kami mendapat mandat dari Peduluan Desa Adat Songan, kami bekerja keras penuh pengabdian, tanggung jawab, dan tulus untuk suksesnya acara ini,” ujar ayah tiga anak tersebut saat ditemui Bali Post di Pura, Senin (21/9).
Pangelingsir Warga Kayuselem itu mengatakan bahwa untuk mengoordinasikan tim kerja dalam jumlah besar membutuhkan kesabaran hati dan seni kepemimpinan tersendiri. Menjaga kesucian yadnya harus dengan kehati-hatian dalam berkomunikasi dan bertindak. “Kita harus hati-hati berkomunikasi, berbuat dan bertutur kata,demi suksesnya tahap demi tahap,”ujarnya.
Untuk menyukseskan pelaksanaan karya, ia merangkul krama dadia secara optimal dan generasi muda dalam hal penggalian dana, dokumentasi dan publikasi serta influencer dari berbagai kalangan. Pihak panitia juga telah menyebarkan uleman (undangan) resmi secara luas mulai dari subak di seluruh Bali, seluruh desa adat di Bangli, pemerintah daerah dan provinsi, puri-puri, tokoh masyarakat, hingga perguruan tinggi.
Melalui undangan itu diharapkan semua umat dan krama Bali bisa mengetahui bahkan bisa tangkil ngaturang sembah bakti ke kahyangan sungsungan jagat tersebut. (Dayu Swasrina/balipost)










