Karya Tawur Agung di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, diikuti ribuan krama, Senin (21/9). (BP/jay)

 

BANGLI, BALIPOST.com – Upacara Tawur Agung Manca Wali Krama menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian karya di Tri Kahyangan Jagat Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli. Upacara yang berorientasi pada penyucian dan keharmonisan alam semesta tersebut digelar di kawasan tepi siring Segara Danau Batur, Senin (21/9).

Prosesi tawur agung tersebut dipuput 13 sulinggih. Pelaksanaan upacara berlangsung khidmat dan diikuti oleh ribuan krama serta pamedek yang datang untuk mengikuti sekaligus menghaturkan bhakti dalam rangkaian karya agung yang dilaksanakan oleh Desa Adat Songan.

Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun didampingi Pangrajeg Karya, Anak Agung Gede Putra Wiraguna mengatakan pelaksanaan Tawur Agung Panca Wali Krama memiliki makna penting sebagai upaya penyucian bhuwana agung sekaligus bentuk rasa syukur dan bakti umat kepada alam semesta. Menurutnya, ritual tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran umat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan.

Baca juga:  Sebelumnya Diakui, Pemkab Bangli Sebut GOR di Kubu Tidak Lagi Jadi Asetnya

Keharmonisan diharapkan terwujud dalam hubungan antarmanusia, manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Di samping menyucikan alam semesta, diharapkan hubungan kita antarsesama, dengan alam semesta, dan Ida Sang Hyang Widhi semakin mantap. Jadi, untuk seluruh umat Hindu di Bali mari kita melaksanakan sembah bhakti kepada Ida Betara di Tri Kahyangan Jagad Pura Hulundanu Batur,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya, I Gede Darmawa, menjelaskan pelaksanaan Tawur Agung Manca Wali Krama merupakan bagian dari rangkaian upacara yang telah dilaksanakan secara bertahap sejak sebelumnya. Sejumlah ritual penting telah dilaksanakan, termasuk Danu Kertih dan Wana Kertih.

Baca juga:  Anjing Gigit 6 Warga di Bantang, Sampel Otaknya Positif Rabies

Kedua rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesucian serta keharmonisan unsur alam yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. “Hari ini (Senin) dilaksanakan upacara Tawur Agung Manca Wali Krama. Pada prinsipnya upacara ini bertujuan untuk pembersihan alam semesta,” jelasnya.

Rangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur selanjutnya akan memasuki sejumlah tahapan hingga mencapai puncak karya pada 26 September mendatang. Setelah seluruh rangkaian utama selesai, karya tersebut dijadwalkan ditutup dengan upacara penyineban pada 6 Oktober 2026.

Berdasarkan pantauan di lokasi, pelaksanaan Tawur Agung yang berlangsung sekitar pukul 12.00 WITA tersebut berlangsung khidmat. Sejumlah pejabat, tokoh puri, serta tokoh masyarakat seluruh Bali turut hadir mengikuti prosesi di kawasan tepi Segara Danau Batur.

Baca juga:  Karya Ngusaba Kapat di Pura Hulundanu Batur Nyejer Hingga 5 Oktober

Ribuan krama dan pamedek juga tampak memadati kawasan pelaksanaan upacara. Kehadiran umat tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam mengikuti rangkaian yadnya yang dilaksanakan Desa Adat Songan.

Pelaksanaan Tawur Agung Manca Wali Krama di tepi Danau Batur sekaligus memperlihatkan kuatnya keterkaitan antara kehidupan spiritual masyarakat Bali dengan keberadaan alam. Danau Batur tidak hanya menjadi bagian penting dari bentang alam Kintamani, tetapi juga memiliki kedudukan sakral dalam kehidupan masyarakat setempat.

Melalui pelaksanaan yadnya tersebut, krama berharap tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara bhuwana agung dan bhuwana alit. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan dalam pelaksanaan rangkaian karya di Pura Hulundanu Batur, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kesadaran umat dalam menjaga kesucian alam serta kehidupan. (Pramana Wijaya/balipost)

 

BAGIKAN