Pengunjung melintas didepan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore (24/9), ditutup turun mengikuti pelemahan bursa kawasan Asia, dipicu oleh ekspektasi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan di tingkat global.

IHSG ditutup melemah 76,30 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.298,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,68 poin atau 9,92 persen ke posisi 623,26.

“IHSG dan bursa regional Asia cenderung tertekan seiring tekanan koreksi yang terjadi di penutupan Wall Street Amerika Serikat (AS) dan bursa di Eropa,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dikutip dari Kantor Berita Antara.

Dari mancanegara, Nico mengatakan koreksi pada bursa global dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi AS, kekhawatiran inflasi, serta meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak serta ekspektasi The Fed akan lebih agresif.

Sebelumnya, beberapa pejabat The Fed menyuarakan kekhawatiran yang lebih luas terkait risiko inflasi yang terus berlanjut, dengan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga lagi kemungkinan diperlukan, serta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Baca juga:  Perkuat Akses ke Destinasi Wisata, Kemen PUPR Bangun Banyak Tol

Selain itu, harga minyak mentah yang tinggi juga meningkatkan risiko inflasi, setelah Iran meragukan kemajuan dalam pembicaraan perdamaian di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketidakpastian seputar negosiasi antara AS dengan Iran.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS, namun tetap terbuka untuk dialog dan diplomasi sambil menetapkan syarat untuk kembali melakukan negosiasi.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, AS, di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai perpanjangan gencatan senjata perdagangan antara AS dengan China.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa AS dan China telah sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka selama dua bulan hingga 10 Januari 2026.

Namun, China secara publik belum mengkonfirmasi tanggal berakhirnya gencatan senjata tersebut, dan perpanjangan tersebut kurang dari perpanjangan 3-6 bulan yang sebelumnya disarankan oleh beberapa pejabat AS.

Baca juga:  Ini, Alasan Pemerintah Tutup Pintu bagi WNA per 1 Januari 2021

Meskipun ekspektasi terkait pertemuan puncak antara Trump dan Xi tetap moderat, namun pertemuan itu diperkirakan akan membahas kecerdasan buatan, Iran, Taiwan, serta hubungan ekonomi yang lebih luas, seiring kedua pihak yang berupaya menjaga stabilitas dalam hubungan bilateral.

Dari dalam negeri, pelaku pasar cenderung dibayangi oleh tingginya risiko global, seperti lonjakan imbal hasil obligasi global, fluktuasi harga minyak, serta ketegangan geopolitik.

Meskipun Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada September 2026, namun BI masih dihantui ancaman global seperti kenaikan suku bunga global, ketidakpastian harga minyak, serta masalah geopolitik.

“Di dalam negeri sendiri, situasi tidak kalah menantang karena laju pertumbuhan ekonomi melambat, belanja masyarakat lesu, dan rupiah terus dibayangi risiko melemah akibat penguatan mata uang dolar AS serta keluarnya dana investor asing,” ujar Nico.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Baca juga:  KPK Tahan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu dipimpin sektor barang baku yang turun sebesar 2,00 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor properti yang turun masing-masing sebesar 1,93 persen dan 1,62 persen.

Adapun, saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu BIPP, UNSP, WAPO, FORU, dan ASLI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni MSIN, SAFE, SDMU, NASI dan MNCN.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,62 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,71 miliar lembar saham senilai Rp11,21 triliun. Sebanyak 198 saham naik, 487 saham menurun dan 278 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 0,88 persen ke 65.592,00, indeks Shanghai melemah 1,22 persen ke 3.888,37, indeks Hang Seng melemah 0,29 persen ke 24.761,13, indeks Kuala Lumpur melemah 0,25 persen ke 1.672,31, dan indeks Straits Times melemah 0,43 persen ke 5.685,15. (kmb/balipost)

BAGIKAN