Ketua Umum ISSI Buleleng, Ni Kadek Turkini. (BP/yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Anak-anak yang diamankan dalam aksi balap sepeda liar di Buleleng tidak serta-merta dipandang sebagai persoalan. Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Buleleng justru membuka peluang bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk dibina menjadi calon atlet balap sepeda.

Ketua Umum ISSI Buleleng, Ni Kadek Turkini, dihubungi Kamis (24/9), mengatakan, pihaknya siap menampung dan mendidik anak-anak yang memiliki kemampuan dalam olahraga balap sepeda. Terlebih, sebagian besar anak yang diamankan masih berstatus pelajar dan berada pada usia pembinaan.

“Seandainya anak-anak ini punya skill, punya kemampuan dalam hal balap sepeda, kami siap untuk menampung dan mendidik anak-anak untuk menjadi atlet yang profesional, khususnya mendukung ISSI di Kabupaten Buleleng,” ujar Turkini.

Menurut Turkini, keterlibatan anak-anak dalam balap sepeda liar menjadi keprihatinan tersendiri. Sebab, selain dilakukan di luar arena resmi, aksi tersebut juga dikaitkan dengan taruhan uang. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian bersama, terutama dari orangtua, sekolah, dan pihak terkait.

Baca juga:  Inter Milan Awali Liga Italia dengan Kemenangan Meyakinkan

Di sisi lain, Turkini melihat kemampuan anak-anak tersebut dalam mengendarai dan memacu sepeda dapat menjadi potensi apabila diarahkan dengan tepat. Karena itu, ISSI Buleleng menjadikan pembinaan anak usia sekolah sebagai salah satu skala prioritas.

“Karena ini anak-anak masih di bawah umur, artinya masih dalam tahap pembelajaran di sekolah, itu juga sudah menjadi skala prioritas kami di ISSI untuk merekrut anak-anak ini,” katanya.

Untuk menjaring bibit atlet, ISSI Buleleng juga telah menyiapkan rencana menggelar kejuaraan sepeda yang menyasar kalangan pelajar. Salah satunya lomba BMX yang akan disosialisasikan ke sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA. “Kami akan mengadakan lomba BMX yang pesertanya kita sosialisasikan di masing-masing sekolah tingkat SMP, SD, dan SMA,” ujarnya.

Pelaksanaan event tersebut sebelumnya belum dapat direalisasikan karena ISSI Buleleng disibukkan dengan agenda pra-Porprov. Turkini mengatakan, rencana tersebut akan kembali dibahas agar pelaksanaannya dapat segera direalisasikan.

Sementara, untuk nomor balap sepeda lainnya, termasuk balap sistem drag, akan dibicarakan lebih lanjut bersama pengurus ISSI. Menurut Turkini, setiap nomor memiliki kualifikasi dan penyelenggaraan event yang berbeda.

Baca juga:  Cegah Atlet Berprestasi Ingin Hengkang dari Bali, Ini Kebijakan KONI

Di tengah upaya pembinaan tersebut, ISSI Buleleng masih menghadapi kendala fasilitas. Hingga kini, organisasi tersebut belum memiliki lahan atau lintasan permanen yang dapat digunakan untuk kegiatan balap sepeda.

Selama ini, kegiatan ISSI dilakukan dengan menyewa maupun meminjam lokasi. Salah satunya di kawasan Pemaron yang ditata sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan kegiatan balap sepeda.

Turkini menjelaskan, keberadaan fasilitas permanen sangat dibutuhkan untuk mendukung pembinaan atlet di Buleleng. Ia berharap ke depan dapat tersedia satu lokasi khusus untuk olahraga sepeda, setidaknya untuk nomor BMX.

“Dari sekian periode saya ingin membuat satu tempat khusus untuk sepeda. Tidak semuanya, mungkin satu saja, BMX saja misalnya. Tetapi untuk saat ini lahan yang kita butuhkan belum tersedia,” katanya.

Menurut dia, tersedianya fasilitas resmi juga dapat menjadi salah satu sarana untuk mengarahkan anak-anak yang memiliki minat terhadap balap sepeda. Dengan demikian, mereka memiliki ruang untuk berlatih dan berkompetisi tanpa harus menggunakan jalan umum.

Baca juga:  Kasus Perkelahian Dua Siswi SMP di Singaraja Berakhir Damai

Selain pembinaan melalui olahraga, Turkini menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas anak. Menurut dia, pendidikan dan pengawasan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah. “Sebagai orang tua wajib memberikan perhatian, tidak serta-merta mempercayakan kepada pihak sekolah,” tegasnya.

Orang tua, lanjut dia, perlu membangun komunikasi dengan anak dan mengetahui aktivitas yang dilakukan, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Edukasi mengenai dampak dari setiap tindakan juga perlu diberikan sejak dini.

Hal ini dinilai penting mengingat aksi balap sepeda liar yang terungkap di Buleleng tidak hanya melibatkan anak-anak di bawah umur, tetapi juga disertai praktik taruhan uang. Aktivitas tersebut berpotensi menggeser kegiatan olahraga menjadi ajang perjudian. “Peran orang tua penting, jangan sampai ada anak yang diamankan gara-gara balap sepeda yang dibarengi dengan perjudian atau taruhan uang,” tandas Turkini. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN