
DENPASAR, BALIPOST.com – Aksara bukan sekadar rangkaian simbol untuk menuliskan bahasa. Di balik bentuk dan perkembangannya, tersimpan jejak perjalanan peradaban yang membentuk identitas masyarakat Nusantara.
Perspektif tersebut mengemuka dalam seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara yang digelar Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Bali di Aula Kantor PHDI Provinsi Bali, Sabtu (19/9). Seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA, Dr. I Nyoman Rema, S.S., M.Fil.H, dan Drs. Ketut Sudarsana sebagai narasumber.
Ketua PSN Bali, Pinandita Wayan Dodi Arianta, mengatakan pembahasan mengenai aksara penting bagi para pinandita dan anggota PSN karena berkaitan langsung dengan pemahaman terhadap warisan leluhur.
Menurutnya, pemahaman tersebut tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca atau menulis aksara, tetapi juga perlu melihat perjalanan sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Melalui seminar ini, kita diharapkan dapat mengenal dan memahami jejak sejarah aksara Nusantara, sehingga mampu menjaga warisan leluhur serta menularkannya kepada generasi muda,” ujar Dodi.
Pembahasan semakin relevan bagi PSN karena simbol organisasi tersebut menggunakan Omkara Devanagari. Karena itu, kajian mengenai perjalanan aksara menjadi bagian penting untuk memahami latar belakang simbol sekaligus sejarah budaya yang melingkupinya.
Ketua Umum PSN Pusat, Jro Gde Gde Pastika, S.Pd., M.Sos., menilai pemahaman mengenai asal-usul aksara Nusantara perlu dimiliki para pinandita dan jro mangku. Dari pemaparan narasumber, perkembangan aksara di Nusantara memiliki kaitan dengan tradisi aksara Devanagari dan Pranagari yang kemudian mengalami perkembangan di berbagai wilayah.
Perkembangan tersebut melahirkan beragam bentuk aksara daerah, termasuk aksara Sunda, aksara Jawa atau Hanacaraka, hingga aksara Bali.b“Evolusi aksara ini menunjukkan kekayaan seni dan budaya lokal, seperti bagaimana masyarakat Bali mengolah aksara menjadi bentuk kaligrafi yang indah,” kata Jro Gde Pastika.
Namun, hubungan sejarah antaraksara tersebut tidak kemudian menghilangkan kekhasan aksara Bali. Jro Gde menegaskan, dalam pelaksanaan ritual keagamaan dan upacara yadnya di Bali, penggunaan aksara tetap mengacu pada Aksara Bali sebagai bagian dari kearifan lokal.
Seminar ini digelar secara hibrida (online dan offline) dengan total pendaftar mencapai 187 peserta. Sebanyak 44 peserta hadir secara luring (offline), yang terdiri dari para ketua Korwil PSN dari berbagai daerah di Indonesia, seperti NTB dan Jakarta.
Yang menarik, hasil pembahasan seminar tidak berhenti sebagai materi diskusi. Kajian mengenai aksara dan simbol organisasi tersebut direncanakan menjadi salah satu bahan acuan dan pertimbangan dalam Mahasabha PSN Pusat mendatang. (Suka Adnyana/balipost)










