
GIANYAR, BALIPOST.com – Besarnya potensi budaya, pertanian, lingkungan hingga pariwisata di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat setempat. Warga lokal jangan sampai hanya menjadi penonton ketika potensi ekonomi di wilayahnya justru berkembang dan menarik minat investor dari luar.
Tokoh muda Desa Pejeng, I Made Kamardiyana menilai, peluang masyarakat lokal untuk mengambil peran dalam mengelola berbagai potensi tersebut masih sangat terbuka. Menurutnya, masyarakat Pejeng memiliki modal penting berupa sumber daya manusia yang mumpuni serta pemahaman terhadap karakter dan potensi wilayahnya sendiri.
“Banyak orang hebat di Pejeng, jadi warga Pejeng bisa menjadi tuan rumah atau pengelola dari potensi yang ada di Pejeng,” kata Kamardiyana, di Pejeng, Sabtu (5/9).
Pernyataan tersebut sejalan dengan gagasannya mengenai pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan potensi, tetapi juga memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dalam rantai ekonominya. Menurut pendiri Mai Organic Farm ini, peluang itu dapat muncul dari berbagai sektor.
Pengembangan pariwisata, misalnya, tidak harus selalu identik dengan masuknya modal besar dari luar daerah. Warga lokal juga memiliki kesempatan untuk mengambil posisi sebagai pelaku usaha, pengelola maupun investor.
Mantan Kelian Dinas Banjar Panglan, Desa Pejeng ini menyebut, keberadaan sejumlah bisnis pariwisata yang telah dimiliki warga lokal menjadi bukti bahwa masyarakat Pejeng sebenarnya memiliki kemampuan untuk berinvestasi di wilayahnya sendiri. “Bisa, sudah banyak bisnis pariwisata yang dimiliki oleh warga lokal Pejeng,” ujar pria yang akrab disapa Kadek Kamardiyana ini.
Namun, tantangan muncul ketika investasi dengan nilai besar mulai menyasar Pejeng. Salah satu yang paling terlihat adalah perkembangan akomodasi wisata seperti vila yang dinilai memiliki prospek ekonomi cukup menggiurkan. Kondisi tersebut membuat kawasan dengan potensi wisata tinggi berpeluang semakin banyak dilirik pemodal dari luar, termasuk investor asing.
Kamardiyana berpandangan, persoalannya bukan semata-mata soal siapa yang memiliki modal paling besar. Menurutnya, masyarakat lokal tetap dapat memiliki ruang untuk menguasai dan mengelola potensi ekonomi di daerahnya apabila didukung kebijakan yang tepat. “Bisa, melalui kebijakan yang tepat,” tegasnya.
Ia menilai kebijakan menjadi faktor penting untuk memastikan pertumbuhan investasi tidak justru membuat masyarakat lokal kehilangan kendali atas ruang ekonomi di desanya sendiri. Dengan perencanaan yang baik, masyarakat dapat didorong untuk membangun kekuatan ekonomi secara bersama-sama, termasuk melalui pengembangan usaha lokal dan skema investasi yang memungkinkan warga ikut memiliki manfaat dari pertumbuhan pariwisata.
Di sisi lain, Kamardiyana melihat peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya tersebut. Potensi besar yang dimiliki Pejeng membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelolanya, baik dari sisi inovasi, kewirausahaan maupun kemampuan manajerial. Oleh karena itu, pembangunan desa tidak cukup hanya dengan menghadirkan infrastruktur atau membuka ruang investasi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan warga memiliki kemampuan untuk mengambil kesempatan yang muncul.
Dengan cara tersebut, pertumbuhan ekonomi di Pejeng diharapkan tidak berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan atau bertambahnya investasi. Aktivitas ekonomi harus menciptakan efek berantai yang dirasakan masyarakat, mulai dari usaha pangan, pertanian, jasa, akomodasi, kerajinan, hingga berbagai kebutuhan pendukung pariwisata.
Gagasan itu juga menjadi bagian dari pandangan Kamardiyana mengenai masa depan Pejeng. Desa tua yang memiliki kekayaan sejarah, situs purbakala, pura bersejarah, tradisi serta potensi pertanian tersebut dinilainya memiliki fondasi kuat untuk dikembangkan tanpa harus kehilangan identitas lokal.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan masyarakat tidak hanya hadir sebagai pelengkap ketika potensi tersebut dikembangkan. Warga harus memiliki kapasitas sekaligus ruang untuk menjadi pelaku utama. Dengan kebijakan yang berpihak pada penguatan masyarakat lokal, Kamardiyana meyakini modal tidak selalu menjadi satu-satunya penentu siapa yang mendapatkan manfaat terbesar dari perkembangan ekonomi desa.
“Sebab, kekuatan Pejeng bukan hanya terletak pada tanah dan potensi wisatanya, tetapi juga pada orang-orang yang sejak lama hidup, bekerja dan memahami desa tersebut. Jika kekuatan itu dipadukan dengan kebijakan yang tepat, masyarakat Pejeng bukan hanya dapat menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi pengelola sekaligus penerima manfaat utama dari kemajuan daerahnya sendiri,” ujarnya. (Sumarthana/balipost)










