Pos jalur pendakian menuju Gunung Batukau di Pujungan, Pupuan, Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Maraknya kebakaran hutan akibat kemarau panjang membuat pengurus Sad Kahyangan Jagat Bali Pura Luhur Batukau mengambil langkah antisipasi sejak dini. Jalur pendakian Gunung Batukau melalui Pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, ditutup sementara mulai, Rabu (2/9) hingga waktu yang belum ditentukan.

Ketua Umum Sad Kahyangan Jagat Bali Pura Luhur Batukau, I Ketut Sucipto, mengatakan penutupan dilakukan karena kondisi Gunung Batukau saat ini cukup kering setelah lama tidak diguyur hujan. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan, terutama akibat kelalaian manusia.

“Akibat lama tidak hujan, kondisi gunung saat ini kering. Langkah ini kami ambil agar bencana kebakaran tidak sampai terjadi di Gunung Batukau, mengingat sekarang musim kemarau,” ujar Sucipto, Kamis (3/9).

Menurut dia, sebelum ditutup, jalur pendakian melalui Pura Luhur Batukau sebenarnya telah menerapkan seleksi ketat terhadap pendaki. Setiap pendaki diwajibkan memenuhi sejumlah ketentuan untuk menjaga keamanan, kesucian kawasan pura, serta kelestarian alam.

Baca juga:  Erupsi Gunung Berapi Bawah Laut, Ribuan Warga Jepang Disarankan Mengungsi

Ketentuan tersebut seperti para pendaki tidak diperbolehkan dalam kondisi cuntaka, lalu melapor pada aparat terkait, menjalani pemeriksaan barang bawaan sebelum mendaki, serta membawa kembali sampah yang dihasilkan selama pendakian.

Pendaki juga diwajibkan menjaga kesucian pura, mengenakan pakaian sopan, tidak menyalakan api maupun merusak tanaman. Sementara pendaki pemula diwajibkan didampingi pemandu.

Sucipto sendiri mengatakan, keputusan menutup jalur pendakian juga tidak terlepas dari pengalaman kebakaran Gunung Batukau sekitar tiga tahun lalu. Kebakaran tersebut terjadi ketika kondisi kawasan gunung kering dan diduga dipicu kelalaian manusia. Dimana untuk penanganan kebakaran saat itu membutuhkan dana sekitar Rp90 juta dan melibatkan sekitar 3.000 warga Desa Adat Pekandelan.

“Kebakaran sekitar tiga tahun lalu ini yang menjadi pelajaran bagi kami. Karena itu, menutup jalur pendakian melalui Pura Luhur Batukau menjadi salah satu langkah antisipasi mencegah kebakaran,” katanya.

Baca juga:  Tim Gabungan Evakuasi Seorang Pendaki Gunung Abang

Untuk mencegah adanya pendaki yang tetap menerobos, petugas disiagakan di jalur pendakian untuk melakukan pemantauan. Meski demikian, Sucipto mengaku masih mengkhawatirkan keberadaan jalur pendakian lain menuju Gunung Batukau yang berada di wilayah Kecamatan Pupuan dan Penebel. Jalur-jalur tersebut berada di luar pengawasan pengurus Sad Kahyangan Jagat Bali Pura Luhur Batukau.

“Jalur pendakian yang ada di luar pengawasan kami ini yang masih kami khawatirkan. Jika terjadi bencana kebakaran, pendaki yang terbukti menjadi penyebab kebakaran akan diminta bertanggung jawab,” tegasnya.

Terpisah, kebijakan penutupan sementara jalur pendakian juga dilakukan di wilayah kecamatan Puouan tepatnya di jalur pendakian melalui Pura Malen, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan. Jalur tersebut akan ditutup sementara mulai 5 September 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.

Baca juga:  Dari Korban Jiwa COVID-19 Bertambah hingga Pembangunan Dermaga di Danau Batur

Kapolsek Pupuan, AKP I Nengah Simpen, mengatakan pihaknya sudah menerima surat pemberitahuan dari Desa Adat Pujungan terkait penutupan jalur pendakian tersebut.

Selain berkaitan dengan pelaksanaan upacara Dewa Yadnya Ngusabha Nini (Ngusaba Negtegang) dan Pujawali Purnaming Sasih Kapat Warsa 2026 di Desa Adat Pujungan, penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi kebakaran hutan selama musim kemarau berkepanjangan.

“Penutupan ini juga sebagai langkah antisipasi terjadinya bahaya kebakaran hutan sebagai akibat musim kemarau yang berkepanjangan,” kata Simpen.

Kendati ditutup untuk pendakian umum, jalur Pura Malen masih dapat digunakan oleh peneliti yang telah mendapatkan izin dari instansi terkait. Para peneliti tetap diingatkan menjaga kebersihan, kelestarian alam, serta mengantisipasi potensi kebakaran selama berada di kawasan Gunung Batukau. (Dewi Puspawati/balipost)

BAGIKAN