
SINGARAJA, BALIPOST.com – Bertahun-tahun Komang Swartini (54) bertahan di rumah yang kondisinya nyaris ambruk. Bersama anak laki-lakinya, warga Banjar Dinas Sema, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, itu terpaksa menempati satu kamar yang masih bisa digunakan meski tetap bocor saat hujan.
Hampir seluruh bagian atap rumah Swartini berlubang dan rusak parah. Sejumlah bagian bahkan sudah jebol. Kondisi rumah tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan semakin parah dalam dua tahun terakhir akibat diterpa hujan dan angin.
“Bolongnya sudah tahunan. Tempat tidur juga hancur dan bocor. Saya sudah tinggal di sini puluhan tahun,” ujar Swartini, Senin (31/8).
Swartini mengaku telah mengusulkan bantuan perbaikan rumah melalui pemerintah desa sejak sekitar tiga tahun lalu. Namun, hingga kini bantuan perbaikan belum juga diterima. Ia hanya pernah mendapat bantuan berupa terpal untuk menutup bagian rumah yang rusak.
Sehari-hari, Swartini bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu memperbaiki rumah secara mandiri. Ia pun memilih bertahan di rumah tersebut sembari menunggu bantuan.
Kondisi itu mendapat perhatian Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna yang turun langsung mengecek rumah Swartini, Senin (31/8). Ia didampingi Kepala Dinsos P3A Buleleng Putu Kariaman Putra, Perbekel Sangsit, dan pihak terkait.
Supriatna mengatakan, berdasarkan hasil pengecekan Dinsos P3A, Swartini tercatat dalam data perlindungan sosial dan masuk desil 3 sehingga dinilai layak mendapat bantuan.
Pemkab Buleleng akan mengupayakan perbaikan rumah tersebut dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah dan badan usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kita mengajak beberapa dinas, kemudian badan usaha, untuk bergotong royong memberikan bantuan terkait dengan perbaikan rumah yang ditinggali Ibu Komang Suartini,” ujarnya.
Menurut Supriatna, pendataan menjadi salah satu kendala dalam penanganan rumah tidak layak huni (RTLH). Tidak semua usulan dari tingkat bawah masuk dan terbarui dalam basis data perangkat daerah. Akibatnya, masih ada warga yang membutuhkan bantuan tetapi belum tertangani.
Swartini sebelumnya telah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), tetapi belum pernah mendapat bantuan untuk perbaikan rumah. Melihat kondisi bangunan yang membahayakan, terutama di tengah musim hujan dan potensi angin kencang, Pemkab Buleleng mendorong perbaikan dilakukan secepatnya.
“Kalau lewat APBD itu pasti menunggu proses yang cukup panjang. Ini karena kondisi atapnya sudah membahayakan,” tegas Supriatna. (Yuda/balipost)










