Gubernur Bali, Wayan Koster menerima audiensi DPP Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo), di Jayasabha, Denpasar, Jumat (28/8). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali memperkuat sinergi dengan kalangan tenaga ahli lingkungan hidup dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus mempercepat pengembangan energi bersih. Komitmen tersebut mengemuka saat Gubernur Bali, Wayan Koster menerima audiensi Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo), di Jayasabha, Denpasar, Jumat (28/8).

Audiensi tersebut membahas berbagai peluang kolaborasi Pertalindo Bali dengan Pemprov Bali, khususnya dalam pengelolaan lingkungan hidup, pemanfaatan tenaga ahli, sertifikasi, laboratorium terakreditasi, serta pengembangan energi bersih.

Ketua DPP Pertalindo Bali, I Ketut Gede Dharma Putra, menyampaikan Pertalindo merupakan organisasi yang menghimpun tenaga ahli lingkungan hidup di tingkat Provinsi Bali. Organisasi tersebut berkomitmen memberikan kontribusi dalam mendukung pembangunan Bali, terutama melalui kompetensi sumber daya manusia di bidang lingkungan.

Pertalindo Bali juga memiliki lembaga sertifikasi dan laboratorium terakreditasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kebutuhan di bidang lingkungan hidup. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas pengelolaan lingkungan sekaligus mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan di Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Pertalindo Bali juga menyampaikan rencana pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Konferensi Internasional pada 22 September 2026. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Shinhwa University dan Universitas Udayana.

Konferensi internasional itu mengangkat tema “Pemanfaatan Energi Bersih di Bali Menuju Net Zero Emission 2045.” Pertalindo Bali mengundang Gubernur Wayan Koster untuk membuka kegiatan sekaligus menjadi keynote speaker.

Baca juga:  Gubernur Koster Sebut Terminal LNG Bagian dari Bali Mandiri Energi Bersih

Menanggapi agenda tersebut, Gubernur Koster menegaskan bahwa arah kebijakan energi Bali tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian Net Zero Emission (NZE). Menurutnya, agenda yang lebih utama adalah mewujudkan Bali Mandiri Energi dengan mengembangkan sumber energi yang bersih, baru dan terbarukan.

“Bali tidak hanya Net Zero Emission. Agenda utamanya Bali Mandiri Energi. Sumber energinya bersih, baru dan terbarukan,” tegas Koster.

Menurut Koster, kemandirian energi tidak hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan energi Bali. Lebih dari itu, transformasi energi harus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem alam Bali.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Pembangunan Bali harus diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berkualitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Karena itu, orientasi kebijakan energi bersih tidak semata-mata untuk memenuhi agenda dunia terkait penurunan emisi. Koster menekankan pentingnya memastikan udara yang dihirup masyarakat tetap berkualitas, lingkungan bersih, polusi ditekan, masyarakat hidup sehat, serta pangan yang dikonsumsi memiliki kualitas yang baik.

“Dengan demikian kualitas udara bagus, polusi turun, penyakit juga menurun. Itu target saya,” ujar Koster.

Baca juga:  Ribuan Los dan Kios Kosong di Pasar Tradisional, Minat Pedagang Baru Masih Minim

Untuk mencapai tujuan tersebut, kebijakan energi bersih dinilai harus berjalan beriringan dengan upaya memperluas dan merehabilitasi hutan serta meningkatkan penanaman pohon. Penanaman pohon perlu diperbanyak untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan kemampuan alam dalam menyediakan oksigen.

Gubernur Koster juga mendorong transformasi sistem energi Bali secara bertahap dengan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Saat ini, sistem kelistrikan Bali masih memperoleh sebagian pasokan dari pembangkit berbahan bakar fosil, termasuk sekitar 35 megawatt (MW) dari Paiton yang menggunakan batu bara.

Ke depan, Bali diarahkan meningkatkan pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, antara lain tenaga surya, gas, energi gelombang dan angin. Menurut Koster, transformasi tersebut telah masuk dalam rencana sistem kelistrikan PLN dan prosesnya sedang berjalan.

Salah satu strategi utama dalam mewujudkan Bali Mandiri Energi adalah mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pemanfaatannya didorong di berbagai lokasi, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan atau mal, sekolah hingga fasilitas lainnya.

Pemprov Bali terus mendorong peningkatan penggunaan PLTS melalui berbagai kebijakan dan Surat Edaran Gubernur. Koster juga menyampaikan dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap pengembangan PLTS di Bali dengan kapasitas hingga 1.500 MW.

Peningkatan penggunaan energi bersih diharapkan memberikan dampak langsung terhadap kualitas lingkungan Bali. Semakin berkurangnya penggunaan energi fosil, menurut Koster, akan membantu menurunkan polusi, memperbaiki kualitas udara, menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Baca juga:  Bali Pertama Terapkan Virtual Power Plant, Ini Rencana Dimulainya hingga Kapasitas Awal

Gubernur Koster menegaskan, kebijakan Bali Mandiri Energi pada akhirnya juga sejalan dengan agenda global menuju Net Zero Emission 2045. Namun, bagi Bali, agenda tersebut memiliki landasan yang lebih fundamental, yakni menjaga alam Bali dan menciptakan kehidupan masyarakat yang bersih, sehat serta berkualitas.

Dengan demikian, agenda global pengurangan emisi dipandang sebagai bagian yang selaras dengan arah kebijakan Bali Mandiri Energi. Bali tidak hanya ingin mengikuti tren transisi energi dunia, tetapi membangun sistem energi yang sekaligus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat dan kelestarian alam.

Gubernur Koster juga menyampaikan bahwa langkah Bali dalam mendorong kebijakan energi bersih mulai mendapat perhatian internasional. Ia bahkan mengaku mendapat undangan ke London untuk membahas kebijakan energi bersih dan kemandirian energi yang dikembangkan Bali.

Perhatian tersebut, menurut Koster, menunjukkan bahwa kebijakan Bali dalam mendorong energi bersih dan kemandirian energi memiliki relevansi yang lebih luas, tidak hanya bagi Bali, tetapi juga dalam konteks perubahan sistem energi dan tantangan lingkungan di tingkat global. (kmb/balipost)

BAGIKAN