Gelombang tinggi menerjang kawasan pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Selasa (11/8) pagi. (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Gelombang tinggi menerjang kawasan pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Selasa (11/8) pagi. Ombak diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3 meter dan membuat daratan dilanda rob hingga puluhan meter.

Gelombang besar tersebut terjadi sekitar pukul 08.00 WITA. Warga setempat, Dewa Gede Putra, mengatakan hempasan ombak bahkan membuat air laut mencapai jalan beraspal yang berjarak sekitar 100 meter dari garis pantai.

“Sekitar jam 8 pagi ombak besar. Tingginya kira-kira 3 meter,” ujar Dewa Putra.

Menurutnya, gelombang tinggi sebenarnya bukan fenomena baru bagi masyarakat pesisir Kusamba. Menjelang sasih Karo, warga biasanya sudah mengantisipasi kondisi laut yang mulai mengalami peningkatan gelombang.

Baca juga:  Masyarakat Diminta Waspadai Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Selatan Bali

Namun, kondisi kali ini dinilai lebih mengkhawatirkan lantaran abrasi yang terjadi selama bertahun-tahun membuat garis pantai semakin mendekati permukiman warga.

Dewa Putra mengatakan perubahan garis pantai di kawasan tersebut sangat terasa dibandingkan kondisi puluhan tahun lalu. Daratan yang sebelumnya cukup luas kini banyak yang telah terkikis dan hilang akibat abrasi.

“Dulu jarak rumah di sini dengan laut hampir dua kilometer. Sekarang sudah habis abrasi,” katanya.

Tak hanya mengubah bentang kawasan pesisir, abrasi juga mulai berdampak langsung terhadap bangunan milik warga. Salah satunya bangunan milik saudara Dewa yang mengalami kerusakan cukup parah setelah berulang kali diterjang ombak dalam sekitar lima bulan terakhir.

Baca juga:  Peringatan Gelombang Tinggi di Selat Bali, Syahbandar Himbau KMP Wajib Ikat Kendaraan

Akibat kerusakan tersebut, bangunan itu kini tidak lagi bisa ditempati. Pemiliknya terpaksa tinggal sementara di rumah orangtuanya.

“Ini bangunan saudara saya, rusak parah kena ombak sekitar lima bulanan. Saudara saya jadi numpang ke rumah orangtua,” ungkapnya.

Dewa Putra juga menyoroti kondisi kawasan Pantai Monggalan yang disebutnya mengalami perubahan cukup drastis akibat abrasi. Kawasan tersebut sebelumnya menjadi tempat tinggal warga.

Dia menyebut sekitar 16 kepala keluarga (KK) pernah bermukim di kawasan tersebut. Namun, abrasi yang terus menggerus daratan membuat rumah-rumah warga satu per satu rusak dan menyisakan puing.

“Rumah warga yang dipesisir sudah rusak dan menjadi laut akibat digerus abrasi,” katanya.

Baca juga:  Ditinggal "Matirta Yatra" Kios Warga Nyalian Terbakar

Menurut Dewa Putra, kondisi tersebut membuat warga semakin waspada ketika memasuki periode gelombang tinggi menjelang sasih Karo. Terlebih, garis pantai saat ini sudah jauh berubah akibat abrasi yang berlangsung dalam jangka panjang.

Warga berharap kondisi pesisir Kusamba mendapat perhatian serius dari pemerintah. Penanganan abrasi dinilai penting untuk mencegah kerusakan semakin meluas dan melindungi bangunan maupun kawasan permukiman warga di sekitar pesisir.

“Kami berharap kondisi pesisir Kusamba mendapat perhatian dan penanganan, terutama untuk mengantisipasi abrasi yang semakin mengancam bangunan maupun kawasan permukiman di sekitarnya,” harapnya. (Sri Wiadnyana/balipost)

BAGIKAN