
NEGARA, BALIPOST.com – Dampak fenomena El Nino menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di Bali termasuk Jembrana. Kekeringan terjadi diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Fenomena El Nino yang diprediksi berada pada kategori sangat kuat membuat musim kemarau tahun 2026 cenderung lebih kering dan panjang. Bahkan berpotensi bertahan hingga awal Desember di sejumlah wilayah. Kondisi itu membuat curah hujan selama musim kemarau diperkirakan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Staf Analis Stasiun Klimatologi BMKG Bali, Trayi Budi Samantu, Senin (10/8) mengatakan karakter musim kemarau tahun ini cukup berbeda dibandingkan 2025.
Menurut Tray Budi, untuk tahun 2026, berbeda dengan tahun lalu, dikarenakan tahun ini fenomena El Nino aktif dan indeksnya diprediksi mencapai kategori sangat kuat. “Karena kondisi inilah kemarau tahun ini berbeda dibandingkan sebelumnya,” ujar Tray Budi.
Menurutnya, pengaruh El Nino membuat musim kemarau cenderung lebih kering sekaligus memiliki durasi lebih panjang. Kondisi tersebut, kata dia, juga mulai terlihat di sejumlah wilayah di lapangan.
Salah satu dampaknya yakni mulai munculnya persoalan keterbatasan air bersih.
Bahkan sejumlah wilayah bahkan telah mendapatkan penyaluran air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Palang Merah Indonesia (PMI).
Selain krisis air, ancaman kebakaran lahan juga meningkat selama periode Juli hingga Agustus 2026. Kebakaran lahan dilaporkan telah terjadi berulang kali di sejumlah lokasi.
Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca periode 9-15 Agustus 2026, kondisi cuaca di wilayah Kabupaten Jembrana secara umum diprediksi cerah hingga berawan.
Suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 21 hingga 33 derajat Celsius. Kecepatan angin berkisar 4 hingga 37 kilometer per jam, sedangkan tinggi gelombang laut diprediksi antara 0,5 hingga 2 meter.
Terkait kondisi cuaca di Jembrana yang sempat menunjukkan mendung tebal namun tidak disertai hujan, Budi menjelaskan bahwa hujan yang terjadi sebelumnya lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Bali bagian tenggara. “Masing-masing wilayah, durasi musim kemarau diprediksi bervariasi. Tetapi rata-rata prediksinya sampai bulan November dan beberapa ada yang di awal Desember,” jelasnya.
Budi menegaskan, musim kemarau bukan berarti wilayah Bali sama sekali tidak akan mengalami hujan. Peluang hujan tetap ada, namun intensitas dan frekuensinya diperkirakan lebih rendah. “Musim kemarau tidak mesti tanpa hujan. Tetap ada sedikit peluang hujan, tergantung di daerah mana,” katanya.
Masyarakat pun diimbau tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan iklim. BMKG mengingatkan agar masyarakat rutin memantau pembaruan prakiraan cuaca sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi kemarau yang lebih kering dan panjang. (Surya Dharma/balipost)










