Ketua DPR RI Puan Maharani di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (20/5/2025). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta tenaga kesehatan mengedepankan empati dalam memberikan pelayanan kepada seluruh pasien, termasuk peserta BPJS Kesehatan.

“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran untuk evaluasi dan perbaikan pelayanan kesehatan terhadap pasien BPJS. Negara harus memastikan tidak ada pasien yang merasa ditinggalkan,” kata Puan di Jakarta, Jumat (7/8).

Puan menyampaikan hal tersebut menyusul munculnya komentar yang dinilai tidak berempati terhadap seorang pasien BPJS oleh sejumlah akun media sosial yang diduga digunakan tenaga kesehatan.

Menurut Puan, pelayanan kesehatan tidak boleh kehilangan empati karena menyangkut aspek kemanusiaan sekaligus kualitas pelayanan publik.

Baca juga:  Atasi Kekurangan Stok, SPBU Swasta Sepakati Impor Stok BBM lewat Pertamina

Ia menilai rentetan peristiwa yang bermula dari keluhan pasien mengenai lambatnya pelayanan rumah sakit, komentar bernada perundungan dari sejumlah tenaga kesehatan di media sosial, hingga pasien meninggal dunia, perlu menjadi perhatian serius.

“Peristiwa ini menyentuh hal yang paling mendasar dalam pelayanan kesehatan, yaitu kepercayaan masyarakat bahwa negara akan hadir ketika seseorang berada dalam kondisi paling rentan,” katanya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Puan mendorong pemerintah menjadikan kasus tersebut sebagai momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan, mulai dari kapasitas rumah sakit, fasilitas, sistem kesehatan nasional, hingga budaya pelayanan.

Baca juga:  Kroscek Kembali Penerima BLT, Lurah Beng Pastikan Tepat Sasaran

Menurut dia, kualitas pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari ketersediaan tenaga medis, tempat tidur, dan pembiayaan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sistem pelayanan juga harus mampu memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan secara cepat, manusiawi, dan bermartabat tanpa membedakan latar belakang maupun status kepesertaan.

Karena itu, Puan meminta standar pelayanan pasien gawat darurat dan manajemen ketersediaan tempat tidur rumah sakit dievaluasi secara nasional.

“Termasuk memastikan adanya sistem informasi kapasitas layanan yang terintegrasi secara nasional sehingga pasien tidak lagi menghadapi ketidakpastian ketika membutuhkan perawatan segera,” ujarnya.

Baca juga:  Zodiak yang Overthinking dalam Percintaan dan Cara Mereka Menghadapinya

Polemik tersebut bermula ketika seorang pasien BPJS bernama Yurizal mengunggah pengalamannya menunggu ruang perawatan melalui media sosial Threads.

Dalam unggahannya, Yurizal mengaku belum mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam di rumah sakit.

Unggahan tersebut kemudian mendapat komentar bernada negatif dari sejumlah akun yang diketahui digunakan oleh orang yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan.

Komentar tersebut mendapat sorotan publik. Belakangan, Yurizal diketahui meninggal dunia. (kmb/balipost)

BAGIKAN