Dua orang petani sedang menyiapkan bibit tanaman padi di Subak Sembung, Denpasar. Luas lahan pertanian di Kota Denpasar terus menyusut akibat alih fungsi lahan. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perubahan iklim yang semakin nyata menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan, baik di tingkat nasional maupun global. Perubahan pola musim, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan stabilitas pasokan pangan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Bali, I Wayan Sunada mengatakan terus memperkuat langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim guna menjaga produktivitas sektor pertanian.

Ia mengutarakan perubahan pola curah hujan, musim kemarau yang semakin panjang, hingga potensi kekeringan menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama.

“Perubahan iklim merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama. Karena itu, kami terus melakukan berbagai upaya adaptasi dan mitigasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga sehingga ketahanan pangan masyarakat Bali tetap aman,” katanya, Jumat (7/8).

Ia menjelaskan pada 2026, Bali memperoleh dukungan dari Kementerian Pertanian melalui Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Mataram berupa pembangunan dan rehabilitasi sebanyak 199 unit saluran irigasi. Selain itu, pemerintah juga menyalurkan 24 unit irigasi perpompaan, pembangunan jaringan irigasi perpipaan, 20 unit bangunan konservasi air, serta 20 unit pompa air untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air pada daerah yang rawan mengalami kekeringan.

Baca juga:  Dari Mahasiswi Belum Pulang hingga Tahun Kerbau Logam, Ini Kata Ahli Feng Shui

Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat 244 subak di Bali yang berpotensi terdampak kondisi iklim ekstrem. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Kabupaten Jembrana dengan potensi lahan terdampak seluas 44 hektare, Kabupaten Karangasem 17 hektare, dan Kabupaten Buleleng 1 hektare.

Data tersebut menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi yang dilakukan secara terpadu bersama pemerintah kabupaten/kota, pekaseh subak, dan penyuluh pertanian.

Selain penguatan infrastruktur, Distanpangan Bali juga meningkatkan pengendalian hama dan penyakit tanaman melalui pemanfaatan agen pengendali hayati (APH) yang ramah lingkungan.

Pada tahun 2026, bantuan yang disalurkan mencapai 1.132 kilogram APH padat serta 7.300 liter APH cair, yang diharapkan mampu menekan perkembangan organisme pengganggu tumbuhan tanpa merusak keseimbangan ekosistem.

Menurut Sunada, adaptasi perubahan iklim tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas petani dalam menerapkan budidaya adaptif, penggunaan varietas yang sesuai dengan kondisi iklim, efisiensi penggunaan air, serta penerapan pertanian ramah lingkungan.

Baca juga:  Masyarakat Batur Utara Gelar Karya Melaspas dan Ngrsi Gana 

“Kami terus mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani agar mampu menghadapi tantangan perubahan iklim secara bersama-sama. Dengan langkah mitigasi yang komprehensif, kami optimistis produksi pertanian Bali tetap terjaga sehingga mampu mendukung ketahanan pangan daerah,” tegasnya.

Sementara itu,  Ketua Prodi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar),  Dr. Ni Made Ayu Suardani S., S.TP., M.Si., mengatakan perubahan iklim tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan konvensional. Menurutnya, transformasi sistem pertanian harus dilakukan melalui pemanfaatan inovasi teknologi, penguatan keberlanjutan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.

“Perubahan iklim telah mengganggu kalender tanam dan menurunkan hasil panen di berbagai wilayah,” ujarnya.

Ia pun menilai sangat penting untuk mempertemukan akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, dan praktisi dari berbagai negara untuk merumuskan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

Suardani mengungkapkan, ilmuwan dari tujuh negara telah mengonfirmasi kehadiran dalam konferensi “The International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC) 2026 yang akan digelar pada 14–15 Agustus 2026 di Sanur, Denpasar.

Baca juga:  Kabar Gembira!! 2,5 Bulan Catatkan Kematian, Hari Ini Bali Laporkan Nihil Tambahan Kasus Meninggal Covid-19

Ketujuh negara itu adalah Taiwan, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia. Mereka akan mempresentasikan berbagai hasil penelitian terkait inovasi pertanian, teknologi pangan, hingga pengembangan ekowisata sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim.

Ayu Suardani menjelaskan, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan mengurangi kehilangan hasil panen (food loss) melalui inovasi teknologi pascapanen.

Menurutnya, teknologi pengolahan hasil pertanian mampu memperpanjang umur simpan produk pangan sehingga risiko kerugian akibat cuaca ekstrem dapat ditekan. Di sisi lain, pengembangan kawasan pertanian berbasis ekowisata dinilai mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Ketika sektor pertanian dipadukan dengan konsep ekowisata, masyarakat tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menawarkan nilai edukasi, budaya, dan konservasi lingkungan. Model ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani sekaligus menjaga keberlanjutan bentang alam,” jelasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN