Suasana desa wisata Penglipuran. (BP/Ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Desa Wisata Penglipuran akan ditutup sementara dari seluruh aktivitas kunjungan wisatawan pada 6 September mendatang. Penutupan ini dilakukan sehubungan adanya upacara Melasti yang digelar masyarakat desa adat setempat.

Penutupan operasional mencakup seluruh area objek wisata, Kawasan Konservasi Hutan Bambu, hingga Bamboo Cafe Penglipuran. Operasional akan kembali dibuka pada 7 September.

Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menjelaskan upacara Melasti yang akan dilaksanakan merupakan bagian dari rangkaian Karya Mamungkah Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Pura Dalem Pelapuan Desa Adat Penglipuran.

Pelaksanaan karya merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan spiritual dan kelestarian adat yang diwariskan secara turun-temurun. “Desa Adat Penglipuran akan melaksanakan Karya Mamungkah Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Pura Dalem Pelapuan, sebuah upacara suci yang memiliki makna spiritual mendalam dalam kehidupan adat dan keagamaan masyarakat Desa Adat Penglipuran.

Baca juga:  Jangan Hanya Fokus Pariwisata, Pengusaha Muda Bali Diminta Garap Potensi Pertanian

Sehubungan dengan pelaksanaan karya tersebut, serta untuk menjaga kesucian, kekhusyukan, keamanan, ketertiban, dan kenyamanan seluruh rangkaian upacara, Desa Wisata Penglipuran akan menutup sementara seluruh aktivitas kunjungan wisata pada hari Minggu, 6 September 2026,” jelasnya.

Ketua Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Penglipuran Wayan Sumiarsa menambahkan bahwa kebijakan penutupan tersebut merupakan bagian dari komitmen desa dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata, kehidupan adat, dan nilainilai spiritual masyarakat.

Baca juga:  Hingga Maret, Penumpang Bandara Ngurah Rai Naik 7 Persen

“Pariwisata di Penglipuran harus tumbuh dengan tetap menghormati adat, budaya, dan kehidupan masyarakat desa. Penutupan sementara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Upacara Melasti sekaligus bagian dari upaya kami mewujudkan pariwisata regeneratif, yaitu pariwisata yang tidak hanya mendatangkan kunjungan, tetapi juga memperkuat budaya, merawat lingkungan, menjaga kesakralan desa, dan mewariskan Penglipuran yang lebih baik kepada generasi mendatang,” ujar Sumiarsa.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh wisatawan, pelaku industri pariwisata, biro perjalanan wisata, mitra usaha, dan masyarakat untuk menyesuaikan jadwal kunjungan pada tanggal tersebut.

Baca juga:  Turun, Kunjungan Wisman ke Tanah Lot

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat penutupan sementara ini. Atas pengertian dan dukungan seluruh pihak dalam menghormati pelaksanaan tradisi adat, kami mengucapkan terima kasih,” ujarnya.

Diharapkan seluruh rangkaian Karya Mamungkah Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan dapat berlangsung dengan lancar serta membawa keharmonisan dan kesejahteraan bagi masyarakat. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN