Ribuan pamedek dan pangiring dari berbagai daerah memadati kawasan Catus Pata Kota Gianyar untuk mengikuti prosesi sakral pamendak agung lan pacepukan patapakan barong. (BP/kup)

GIANYAR, BALIPOST.com – Suasana spiritual menyelimuti pusat Kota Gianyar. Walaupun di tengah guyuran hujan, ribuan pamedek dan pangiring dari berbagai daerah memadati kawasan Catus Pata Kota Gianyar untuk mengikuti prosesi sakral pamendak agung lan pacepukan patapakan barong yang merupakan rangkaian piodalan di Pura Dalem Serongga.

​Iring-iringan patapakan barong mulai berjalan kaki dari desa masing-masing, Selasa (28/7), sekitar pukul 05.00 WITA, menuju titik kumpul di Catus Pata Kota Gianyar. Walaupun di tengah guyuran hujan, para pamedek dan pangiring tetap semangat mengikuti prosesi. Setelah berkumpul kawasan catus pata, silih berganti dilaksanakan prosesi pacepukan. Saat prosesi, beberapa pangiring mengalami trance.

Baca juga:  Serangkaian Karya IBTK di Pura Agung Besakih, Ribuan Umat Ikuti Melasti di Tegal Suci

Setelah prosesi pacepukan, pemangku patapakan sami dan Pangelingsir Puri Agung Gianyar ngaturang bakti pamendak agung. Berikutnya, seluruh patapakan barong beriringan menuju Pura Dalem Serongga. Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun selaku Pangelingsir Puri Agung Gianyar, hadir langsung dalam prosesi bakti pamendakan agung. ​

Jero Bandesa Adat Serongga, Pande Made Sudarsana menyampaikan bahwa pada pelaksanaan karya tahun ini, terdapat delapan patapakan barong yang tedun lunga menuju Pura Dalem Serongga. ​Dua wilayah kabupaten yang berpartisipasi dalam prosesi ini meliputi Kabupaten Gianyar (patapakan barong sungsungan jagat Serongga, Siangan, Lebih, dan Tedung) dan Kabupaten Klungkung (patapakan barong dari Desa Adat Tusan, Sari Mertha, dan Tojan).

Baca juga:  Jelang "Masineb," Umat ke Pura Besakih Mulai Berkurang

​”Usai prosesi pacepukan dan pamendak agung, seluruh patapakan barong menuju Pura Dalem Serongga untuk mengikuti puncak pujawali yang berlangsung bertepatan dengan hari raya Purnama. Rangkaian karya berlanjut hingga umanis wali dengan pementasan seni sakral penyalonarangan selama tiga hari berturut-turut, di mana seluruh patapakan barong akan katurang napak siwi dan masolah,” ujar Pande Sudarsana.

​Pemangku Pura Dalem Serongga, Jro Mangku I Made Merta Nadi menjelaskan bahwa piodalan di Pura Dalem Serongga jatuh pada nemu purnama setelah hari raya Kuningan. Prosesi nuwur atau menjemput patapakan Ida Batara dari berbagai desa di Gianyar maupun Klungkung ini merupakan dresta sakral yang rutin digelar setiap lima tahun sekali.

Baca juga:  Kurangi Pengangguran, Disnaker Gianyar Sasar Pencari Kerja

​”Makna utama nuwur ketuwur dan pacepukan ini adalah memperkuat gendu rasa serta paiketan pasemetonan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tapakan barong maupun rangda menjadi simbol keyakinan yang mempersatukan masyarakat lintas desa adat,” ungkap Jro Mangku Merta Nadi.

​Selain itu, tradisi pamendak agung secara historis turut melibatkan peran Puri Agung Gianyar yang menghaturkan pamendak agung kepada patapakan barong sebagai manifestasi Ida Batara Sesuhunan. Hal ini menjadi bukti nyata sinergi spiritual dan kebudayaan yang tetap terpelihara dan lestari hingga saat ini. (Wirnaya/balipost)

BAGIKAN