
SINGASANA, BALIPOST.com – Ada yang menarik dari pelaksanaan tes napza dan cek kesehatan bagi paramudi trans siswa yang digelar Dinas Perhubungan Tabanan, Kamis (23/7), di Graha Yadnya Jayaning Singasana. Di tengah dominasi kaum pria sebagai pengemudi angkutan siswa, sosok Ni Wayan Mustini (47) menjadi warna tersendiri dalam layanan Trans Siswa Kabupaten Tabanan.
Ibu tiga anak asal Banjar Bubugan Kaja, Desa Senganan, Kecamatan Penebel ini mantap mengambil peran sebagai paramudi demi menghidupkan kembali armada yang sempat lama tidak beroperasi. Dari total 244 paramudi Trans Siswa di Kabupaten Tabanan, Mustini menjadi salah satu perempuan yang memilih mengemudikan kendaraan angkutan pelajar. Keputusannya tidak lepas dari kondisi armada milik keluarganya yang sempat menganggur setelah sang adik, yang sebelumnya menjadi paramudi, berhenti karena beralih profesi sebagai guru.
Sebelumnya, Mustini sempat bekerja di sebuah BPR. Namun, sekitar lebih dari lima tahun lalu ia harus berhenti akibat adanya pengurangan (efisiensi) karyawan. Lantaran tak memiliki pekerjaan pasti dan hanya menjadi ibu rumah tangga, ia melihat kesempatan untuk kembali mengoperasikan armada angkutan siswa yang selama ini tidak digunakan.
“Saya menggantikan adik karena mobilnya lama tidak dimanfaatkan. Saya baru mau mulai ikut bergabung menjadi paramudi. Saya memang sudah lama bisa menyetir dan sudah mencoba trayeknya,” ujar Mustini di sela-sela mengikuti Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas dan Tes Napza bagi paramudi Trans Siswa di Gedung Graha Ning Jayaning Singasana.
Nantinya Mustini siap melayani rute menuju SMP Negeri 3 Penebel, dengan lintasan dari wilayah Pemanis, Belatung, Pacung, hingga sekolah tujuan. Meski telah memiliki SIM dan kemampuan mengemudi, Mustini mengaku sempat diliputi keraguan saat memutuskan terjun sebagai pengemudi angkutan pelajar. “Apalagi tadi saat sampai di parkiran hendak ikut sosialisasi dan jalani uji urine sempat ragu, karena semua rekan rekan laki-laki semua. Cuma karena sudah niat, saya jalani saja,” tegasnya.
Terlebih, kepercayaan yang ada pada Mustini tidak terlepas dari dukungan keluarga yang menambah penyemangat utama. Baginya, lebih baik kendaraan dimanfaatkan untuk melayani pelajar daripada dibiarkan terparkir tanpa fungsi.
“Saya jalani dulu. Saya lihat banyak paramudi angkutan transportasi di luar daerah sana ada yang dikemudikan perempuan. Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak? Apalagi keluarga juga memberi dukungan penuh,” katanya optimistis.
Kini, di sela perannya sebagai ibu yang membesarkan tiga anak yang masing-masing telah duduk di bangku kuliah, SMA, dan SD, Mustini membuktikan bahwa profesi paramudi bukan hanya milik kaum pria. Ia pun siap membagi waktu pekerjaannya dengan aktivitas menjadi ibu rumah tangga. Ia juga berharap nantinya akan ada perempuan perempuan lainnya juga ikut ambil peran penting dalam menghadirkan transportasi yang aman bagi para pelajar. (Puspawati/balipost)










