
MANGUPURA, BALIPOST.com – Tumpukan sampah di TPS3R Sempidi Bumi Resik, Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, mendapat atensi khusus Pemerintah Kabupaten Badung. Pemkab melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung menuntut langkah konkret dari pihak ketiga, PT Hejotech, untuk segera menuntaskan persoalan tersebut.
Kepala DLHK Badung, I Made Rai Warastuthi, menegaskan bahwa kondisi di lapangan sudah tidak bisa lagi ditangani dengan janji atau alasan teknis. Ia meminta eksekusi cepat agar krisis sampah tidak semakin meluas dan berdampak pada lingkungan serta kesehatan masyarakat.
“Kita berani mengambil tanggung jawab ini, ya kita harus profesional. Sekarang yang ada di lapangan sampahnya tercampur, apa langkah konkretnya? Tidak bisa lagi kita berteori atau menunggu alat yang belum pasti wujudnya. Harus bergerak cepat,” tegasnya.
Sebagai solusi darurat, DLHK Badung mendorong langkah pembersihan total atau cut off dengan mengerahkan armada besar secara konsisten. Kebutuhan diperkirakan mencapai 20 unit truk pengangkut per hari, ditambah alat berat ekskavator untuk mempercepat proses pengangkutan menuju TPA Suwung maupun fasilitas pengolahan swasta berizin.
“Kalau besok 20 truk datang dan mengangkut setiap hari, dalam jangka waktu sekitar 10 hari masalah ini bisa tuntas. Yang terpenting adalah komitmen dan konsistensi pengangkutan langsung tanpa dibiarkan menumpuk transit lagi,” ujarnya.
DLHK Badung, kata Rai Warastuthi bersama pemerintah desa setempat memastikan akan terus mengawal komitmen tersebut. Pengawasan ketat dilakukan dalam beberapa hari ke depan guna menjamin penanganan berjalan sesuai target dan lingkungan kembali bersih.
Menanggapi hal tersebut, CEO Hejotech, Rina Aprilisoma, menyatakan kesiapan pihaknya untuk segera mengambil langkah konkret. Perusahaan berencana mengerahkan hingga 20 armada truk dan satu unit ekskavator untuk mengosongkan area TPS3R secara bertahap. Selain itu, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan pengelola swasta di Kabupaten Tabanan guna mendukung proses pengolahan dan pemilahan sampah harian.
“Kami merencanakan penyediaan hingga 20 armada pengangkut serta satu unit ekskavator di lokasi. Kami juga sedang memproses kerja sama pengolahan sampah ke pihak swasta di Tabanan yang saat ini tinggal menyelesaikan persiapan pembiayaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rina menambahkan bahwa pengangkutan akan mulai dilakukan pada 23 Juli 2026, seiring jadwal pengiriman sampah organik ke TPA Suwung. “Jadi prepare untuk menyelesaikan hari Kamis berarti berangkat ke Suwung. Begitu untuk yang ke Suwung. Tapi yang swasta pihak swasta ini kita masih koordinasikan, mudah-mudahan clear semua dan kita bisa bergerak ke yang pengiriman yang swasta ini,” terangnya.
Berdasarkan hasil evaluasi, volume sampah di kawasan tersebut melonjak drastis hingga mencapai sekitar 10 ton per hari. Angka ini jauh melampaui prediksi awal yang mencapai 7 ton. Sementara itu, fasilitas pengolahan yang dijanjikan belum juga terealisasi dan belum mengantongi rekomendasi teknis. Kondisi ini memperburuk situasi di TPS3R Sempidi. Sampah menumpuk dalam kondisi tercampur akibat proses pemilahan dari hulu yang tidak berjalan optimal. Jadwal pengangkutan yang tidak teratur semakin memperparah penumpukan di lokasi.(Parwata/balipost)









