Sejumlah pihak menerima penghargaan dan Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, Selasa (2/17). (BP/asa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rapat koordinasi (rakor) keamanan berwisata bagi masyarakat Tiongkok berlangsung, Selasa (21/7) di Tsinghua Southest Asia Center, KEK Kura-Kura, Serangan, Denpasar Selatan. Sejumlah hal menjadi perhatian penting, khususnya masalah aksi kriminalitas jalanan, keamanan pantai, hingga anjing rabies.

Hadir dalam acara tersebut Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok, pihak kepolisian, imigrasi, bea cukai, Basarnas, Satpol PP, Asita Bali, dan lembaga vertikal lainnya.

Dalam rapat yang juga melibatkan Pemerintah Provinsi Bali, NTB dan NTT itu, terungkap khusus wisatawan Tiongkok yang masuk ke Bali terus meningkat. Bahkan secara umum, sebagaimana disampaikan Dir. Intelkam Polda Bali, diketahui bahwa setiap hari ada sekitar 19 ribu hingga 22 ribu per hari wisatawan datang ke Bali. Termasuk di antaranya wisatawan Tiongkok.

Sedangkan menurut Wakil Konsulat Jenderal Rakyat Tiongkok, Zhu Yu, warga daratan Tiongkok pada 2025 datang ke Bali sebanyak 540.000 orang, atau naik 19,83 persen dibanding 2024. Tahun ini, persisnya periode Januari hingga Mei, jumlah wisatawan Tiongkok ke Bali mencapai 243.000 orang atau tumbuh 11,23 persen secara tahunan.

Baca juga:  Sasar Anjing Liar, Ini Jumlah Vaksin Antirabies Disiapkan Denpasar

Pada kesempatan tersebut juga disampaikan analisa dan bahaya pariwisata di wilayah konsuler yang melibatkan WN Tiongkok. Seperti aspek lalu lintas, tahun ini terjadi 25 kasus, termasuk kecelakaan laut, yang merenggut nyawa.

Pihak konsulat juga menyayangkan soal kecelakaan laut, misalnya kurangnya peringatan potensi bahaya di kawasan pantai saat musik hujan, serta tidak adanya larangan berenang bagi wisatawan ketika ombak besar. Yang dikritisi juga tidak adanya pelengkapan pertolongan pertama saat terjadi di wilayah pantai.

Selain itu juga disinggung terkait gigitan anjing liar yang bisa membawa virus rabies. Sehingga pihak konsulat meminta pihak terkait memperkuat pengelolaan hewan liar dan meningkatnya vaksin rabies.

Masih dalam rakor keamanan berwisata Tiongkok, juga dikeluhkan soal pencopetan barang milik wisatawan. Pihak konsulat mengaku menerima puluhan telepon dan e-mail melaporkan kehilangan barang dan seperti paspor, ponsel bahkan ada kehilangan motor.

Baca juga:  Ganding Jalani ‘’Try Out’’ ke Korea

Mirisnya, pelaku tidak hanya menyasar malam hari dan mereka yang jalan sendiri, melainkan di siang bolong juga mereka melakukan aksinya. Atas kondisi itu, pihak konsulat meminta pada pihak terkait untuk melakukan pengawasan hingga ke lapangan, pemeriksaan berkala, pemeriksaan surat izin termasuk tenaga kerja.

Selain itu meningkatkan insfrastruktur jalan, lampu penerangan jalan hingga pemasangan CCTV. Termasuk menyediakan saluran sarana pertolongan, layanan darurat, yang dilengkapi dengn pitur bahasa asing.

Termasuk jika di pantai melengkapi imbauan dengan menggunakan bahasa Mandarin.

Staff Menteri Pariwisata yang hadir secara virtual mengakui bahwa kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia menunjukkan trend positif, bahkn pascapandemi, wisatawan Tiongkok ke Indonesia meningkat sangat signifikan. Itu secara langsung berpengaruh pada ekonomi masyarakat lokal.

Pihaknya telah menyediakan berbagai modul keselamatan, peningkatan SDM, profesional usaha. Pihaknya juga bekerjaama dengan SAR untuk bisa menjadi mitra mitigasi ketika terjadi bencana. Pun pihak Kementerian Pariwisata juga bermitra dengan BMKG, terkait cuaca.

Baca juga:  Laporan Akhir Tahun Budaya 2025, Merawat Budaya Bali dengan Spirit Kolektif

Sementara pihak Polda Bali menyebut pengawasan terhadap keamanan orang asing tidak serta merta tanggung jawab polisi. Bali sebagai destinasi wisata dunia mesti dijaga secara bersama-sama guna menciptakan situasi aman, kondisif dan nyaman bagi wisatawan.

Apalagi, wisatawan Tiongkok membawa kontribusi penting bagi ekonomi Bali, sehingga keamanan wisatawan harus dijaga bersama. Selain melakukan langkah preventif, pihaknya juga penegakkan hukum. Ada hal menarik disampaikan Polda Bali. Yakni, di Bali tahun ini ada 58 orang WNA meninggal di Bali. Penyebabnya mulai kecelakan, bunuh diri, dan ada pula yang sakit.

“WNA banyak yang bunuh diri. Kajian kami, dari keterangan saksi di lapangan, faktor kesehatan berpengaruh dalam kasus ini,” jelas pihak Polda Bali yang hadir dalam kesempatan tersebut. (Miasa/balipost)

BAGIKAN