
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin sore (20/7), melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.921 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dilansir dari Kantor Berita Antara, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi Federal Reserve (The Fed) menahan lebih lama suku bunga tinggi.
“Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak disebabkan AS dengan Iran yang saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu (19/7) malam.
Serangan baru itu terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap berbagai aset AS di negara-negara Teluk.
Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz, seiring pernyataan CENTCOM bahwa serangan AS bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.
“Pengiriman (suplai minyak) melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut,” kata Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah dari level Rp17.944 per dolar AS menjadi Rp17.976 per dolar AS. (kmb/balipost)










